Bentang alam di sekitar Martapura-Banjarmasin sangat banyak dibelah oleh sungai. Setidaknya ada dua sungai besar yang mengalirkan arus air dari Pegunungan Meratus. Sungai itu adalah Sungai Martapura dan Sungai Barito. Sementara ada ratusan lagi anak sungai yang mampu menjangkau pemukiman-pemukiman padat seperti di daerah Kelayan, Banjarmasin.
Bentang alam seperti ini memancing satu pembicaraan menarik tentang efisiensi program pembangunan wilayah. Bagaimana kemudian hal yang menarik adalah bagaimana ciri alam ini bisa harmonis dalam perjalanannya beriringan dengan pengaruh globalisasi pembangunan.
Di satu sisi, bentang alam sungai yang sedemikian banyak ini melahirkan satu struktur bangunan nilai yang terkonstruksi dalam masyarakat pinggir sungai dari waktu ke waktu. Tentu tidak mudah bahwa di sepanjang aliran air ini, kehidupan manusia membaur bersamanya, melewati masa dalam hubungan yang sejalan. Alam menyediakan satu wadah hidup yang tersusun secara sistimatis, dan ini berguna bagi kehidupan mahluk di dalamnya, termasuk manusia.
Dari sepanjang aliran air, mulai dari hulu hingga muara, ada banyak sekali cerita yang sangkut di ingatan kita. Cerita tersebut merupa pada hal-hal sederhana sebenarnya yang jika kemudian ini dibuka kepada khalayak, tak kalah dengan ide-ide besar mengenai kemanusiaan dan pemaknaan hidup yang banyak digagas pemikir di belahan dunia yang lain.
Runut dari perjalanan sederhana saya pada beberapa kali sore melintasi daerah pinggiran sungai martapura.
1. Titik awal ada di dermaga kapal murung, Masjid Alkaromah. Kini, dermaga ulin, nan kecil itu sudah tak lagi ada. Ini menggambarkan satu geseran yang begitu besar dari transportasi air menuju tranasportasi darat. Terakhir, tahun 2005 “kapal kelotok”, begitu masyarakat biasa menyebutnya, beroperasi membawa penumpang dari kampung-kampung pinggir sungai menuju pasar martapura. Ada semacam romantika akhir-akhir ini ketika saya tersadar bahwa kebiasaan seperti itu ternyata sudah tak ada berganti dengan transportasi darat yang menawarkan kecepatan, efisiensi, dan akses yang mudah. Hari ini, naik kelotok di sepanjang sungai martapura jadi suatu kebiasaan mahal. Bukan karena rupiahnya, melainkan karena akses yang serba sulit dewasa ini. romantika seperti ini sebenarnya ada di benak banyak orang yang sempat menjalani masa itu.
2. Sedikit bergeser, nampaklah bangunan besar, tiga tingkat, memanjang sejauh 20 meter. Bangunan Pesantren Darussalam. Darussalam menjadi semacam simbolisasi budaya islam di martapura, selain beberapa ulama yaitu datuk kalampayan dan guru sekumpul. Sebagai bentuk simbolik, darussalam memancing perhatian orang-orang dari penjuru kalimantan selatan. Walhasil, darussalam menyedot ribuan manusia yang mencoba mengais ilmu disana, ilmu agama islam. Maka itu, mari kita lihat darussalam ini sebagai salah satu wadah yang menampung ribuan manusia yang berada di pinggir sungai martapura. Tentu menarik mendengar bagaimana kemudian keberadaan pesantren ini bermasalah karena dianggap salah satu penyumbang e colli terbesar di sungai martapura.
3. Hal menarik lainnya adalah bahwa di sepanjang pinggir sungai, berjejer tempat masyarakat mencuci, mandi, buang hajat, dan keperluan lain. “batang” namanya. Ia mengapung di atas air, terbuat dari dua ikat haur- bambu berdiameter tipis yang dihubungkan di atas papan. Ditambah ruangan kecil untuk untuk aktivitas privat seperti buang hajat, dan mandi. Batang juga secara tidak langsung berfungsi sebagai tempat menyandar jukung-jukung kecil. Saat pagi, mereka berbagi ruang untuk air disini, tidak bayar, air adalah hak semua manusia. berselang lama, tentu “batang” akan lapuk dimakan waktu. Haurnya tak lagi kokoh mengapung, separo lebih sudah tenggelam. Di saat siang, pada suatu waktu saya temui penjual haur, mengapung bersama arus, dari hulu ke hilir. Bergerak tenang. Entah sudah seberapa jauh dia mengarus. Sudah memakan waktu sedemikian lama ia disana. Di atas sana, menunggu suatu penawaran dari sekumpulan keluarga yang ingin mengganti batangnya.
4. Ada rumah gajah baduduk. Rumah adat banjar. Besar. Dijadikan replika istana sultan banjar. Kayu ulin, warna hitam, panjang kaki rumah setinggi 2 meter lebih. Menghadap sungai. Depannya menunduk, seakan memberi hormat pada alam. Rumah ini berdiri di atas rawa, airnya hitam, tapi sangat subur. Saat bah, dipenuhi oleh air bersama eceng gondok dan rerumputan hidro lainnya. Saya suka sekali momen saat bah di kala senja menghampiri. Menyaksikan air hitam yang tenang, memantul seberkas sinar jingga lurus mengikuti matahari, semakin jauh, semakin mengecil hingga samar dan menghilang. Baru saja rumah ini direhab. Dulu, saat malam, gelap menyelubungi rumah ini. Saat saya masih kecil, melewati rumah ini sebuah hal berat, kami sering mempercepat gerak sepeda karena takut. Sekarang, ini menjadi artefak sejarah. Kita mencoba menarik satu dari segumpal kusutnya kisah masa lalu mengenai kerajaan banjar, yaitu mengenai budaya sungai yang lekat dalam masyarakat kita, jaman dulu.
5. Tak seberapa jauh dari rumah gajah baduduk, ada makam Sultan Tahmdidillah. Sultan Banjar yang keberapa saya tak tau. Tak terurus dan jarang dikunjungi. Saya tak tau selagi hidup bagaimana sultan yang satu ini bertutur. Ia terasing dalam sebuah kampung yang ramai. Ia ditinggalkan oleh keturunan & rakyatnya. Plang namanya sudah miring. Ada kotoran kelelawar berserakan. Menyedihkan. Di kota sana, keturunannya merangkai lagi sebuah gelar budaya, raja muda. Gelar yang dulu pernah jua ia sandang. Lantas, hari ini ia diurus oleh seorang yang kebetulan dekat dengan makam. Kemana keturunannya?
6. Mereka yang suka memancing pasti mengetahui daerah ini. galam rabah, adalah daerah rawa. Luas. Rawa ini menghubungkan daerah sungai tabuk di sebelah barat dengan daerah pematang danau di selatan. Disini, bisa dikata sebagai daerah tampungan air dari sungai martapura. Komoditas disini adalah ikan liar. Dan areal persawahan. Hari-hari ini, sawit mulai berekspansi kesini. Sawit mulai mengincar daerah dataran rendah karena lebih murah. Masyarakat sekitar punya reaksi. Tapi ternyata tak punya kekuatan.
7. Lok baintan punya pasar terapung saat subuh. Areal pertemuan pedagang buah, sayur, dan ikan. Memakai perahu kecil. Berkumpul disatu titik. Bernegosiasi. Dingin masih menjangkit. Kayu ulin di gagang kayuh berembun, senyap menusuk melalui pori-pori kulit telapak tangan. Gemericik air perlahan membelah sunyi, sahut azan subuh juga menghiasi pendengaran. Sebagian masyarakat terbangun. Sebagian lagi masih tidur. Tapi mereka terbiasa beraktivitas pada waktu ini, pada tempat yang tak lazim. Di atas sungai. Untuk apa ini semua? Satu kebiasaan. Dua tuntutan. Kebiasaan ditularkan oleh masa lalu, generasi yang lampau. Tuntutan datang dari perut. Demi melanjutkan kehidupan. Bertransaksi. Jual beli. Memanfaatkan selisih harga. Atau menjual hasil alam, buah-buahan yang dipetik sendiri di kebun, kecil-kecilan. Matahari menyapa, jarang orang yang bisa menikmati peralihan bulan ke matahari di atas sungai. Tentu sangat indah. Mereka merasakan ini setiap hari. Bagi mereka, itu biasa. Pekerjaan belum selesai. Pedagang kecil menyebar ke sungai-sungai kecil. Berjualan. Menawarkan pada ibu-ibu rumah tangga di pinggir sungai. Bercengkerama dengan anak kecil yang mandi pagi, ibu – ibu yang lagi mencuci, mereka yang sedang buang hajat. Atau yang masih bekelebat dengan sarung. Bengong di tengah pintu dapur. Menghadap sungai. Pagi ini belum tuntas, mereka sampai pada peruntungan terakhir, hari ini. cukup sudah, besok lagi.
8. Banjarmasin dekat dengan muara sungai. Muara berarti tempat terendah. Air mengalir dari hulu. Ikut pula sampah-sampah. Pelepah pisang, ranting pohon, dedaunan, bungkus plastik. Sampah juga sering sangkut di tiang jembatan. Membentuk semacam pulau bila dilihat dari atas jembatan. Warna-warni. Cerucuk batang haur membuatnya terkesan sangar. Sisanya, menumpuk di hilir. Di sudut rumah, di kolong jembatan. Atau di bantaran sungai yang dangkal. Bagi banyak kalangan, ini tentu menjadi masalah. Bagi mereka yang di pinggir sungai, ya sudahlah. Di kota, sungai jadi bahasan menarik. Sangat publik. Banyak yang menuntut. Tak ada realisasi. Bagaimana pemerintah mengurusinya? Perpindahan moda transportasi jadi bahasan kemudian. Di jakarta, sungai sempat menjadi wacana alternatif mengatasi kemacetan. Gagal. Banjarmasin juga punya banyak sungai. Sayang, tak banyak punya pelabuhan menyandar. Dan titik singgah masih tak ada. Di satu selebaran, sungai digadang-gadang jadi ikon pariwisata banjarmasin. Pariwisata kah? Transportasi kah? Lingkungan kah? Tak masalah. Satu hal misal, siring depan sabilal, mungkin satu bukti kerja pemerintah, bila bicara pembangunan sungai dalam konteks fisik. Pembangunan budaya sungai tentu perlu punya perencanaan yang lebih matang dan melibatkan semua unsur. Tapi bagaimana kemudian ini diterangkan dalam konteks masyarakat yang berwarna, dengan latar pendidikan dan ekonomi yang banyak kesenjangan.

0 komentar:
Posting Komentar