Selasa, 28 juni 2011. Pekan final test sudah selesai. Banyak mahasiswa pulang kampung. Kampus pun jadi sepi dari aktivitas. Di sudut ruang sekretariat organisasi kemahasiswaan masih ditunggui oleh aktivisnya. Seakan tak mau ikut dengan rutinitas mahasiswa kebanyakan. kantin SBC juga masih buka, masih ada mahasiswa yang nongkrong, dan berkumpul, meski agak sepi.
Pagi ini aku bangun telat lagi, setelah lagi-lagi begadang tadi malam. Di pikiranku masih terbayang beberapa rencana dan angan-angan.
Ku terus mandi dan duduk santai pagi ini. hotspot hidup sebentar, kusempatkan mengedit blog dan facebook. Dan ijul mengajakku maain winning. Beberapa kali main, kami terus untuk makan pagi, lagi-lagi mie instan.
Hanya ada tiga sekumpulan orang yang duduk disana. Tak seperti biasanya. Diam-diam, kami menguping pembicaraan mereka. Ada yang menggosip, ada yang diskusi tentang pr2. Kami hanya sebatas mendengarkan samar pembicaraan mereka.
Mungkin inilah pembicaraan kalangan kampus zaman sekarang. Kampus, bagiku tak lebih dari sekumpulan manusia kelas menengah. Walau, ia punya cerita sejarah yang besar, yang katanya punya kekuatan mendobrak tirani.
Selesai makan, aku beranjak ke paman tambal ban. Tepat di depan kampus, lebih tepat lagi di depan halte unlam. Halte yag dipergunakan oleh paman tambal ban sebagai tempat usahanya, disampingnya ada pangkalan ojek. Terlihat ada lima lelaki duduk santai disana. Di depan mereka duduk, berjejer motor, mereka menunggu pelanggan, entah darimana mereka datang aku tak tahu.
Paman tambal ban, kakinya cacat. Ia kesulitan berjalan karena struktur kakinya yang tidak seimbang. Tapi ia tetap bisa bekerja, untuk menyambung hidup. aku menemukan suatu dari lelaki ini. kehormatan sebagai manusia. Dibalik tampilannya yang terbatas, tersimpan semangat hidup. dan ia tak merasa apa-apa dengan kondisi yang ada padanya. Ia tampak menerima.
Aku duduk di halte itu, ditemani ibu-ibu penjual bensin. Wajahnya tampak familiar karena aku seringkali memang beli bensin dari ia. Aku memandangi paman tambal ban yang terampil membolak-balik penguit ban. Panas terik karena sudah siang hari. Di sebelah, ada paman ojek yang rebahan di pangkalan, kepalanya tidak kelihatan karena ditutup oleh topi. Mungkin itu agar matanya tak silau oleh cahaya matahari. Sementara, lalu lalang kendaraan berlanjut terus tak berhenti.
Tak berapa lama, datang ibu-ibu bersepeda. Rantai sepedanya lepas, ia meminjam obeng dengan paman tambal ban. Kelihatannya ibu bersepeda, ibu penjual bensin, dan paman tambal ban sudah saling kenal. Aku asing sendiri ditengah mereka.
Paman tambal ban membantu ibu bersepeda, memasang rantai yang terlepas, memperbaikinya sebentar. Selesai. Ibu bersepeda membawa banyak barang. Dari informasi ibu penjual bensin, barang bawaan itu adalah barang bekas. Ada sandal-sandal yang masih bagus. Di komplek kayutangi sana, tempatnya orang-orang kaya, mereka sudah tidak memakai lagi sandal-sandal itu. daripada dibuang di tempat sampah, pemulung mengambilnya dan menjualnya kembali pada mereka yang mau membeli, termasuk ibu bersepeda tadi. Bagi mereka, dalam pemanfaatan barang, selama masih bisa diperbaiki kenapa mesti membeli yang baru?
kutangkap dari pembicaraan mereka, suatu hal yang sederhana. Aku tak tahu dari pikiran mereka. aku memandangi lagi kampus unlam.
Aku merasa lagi teringat. Kampus unlam kok kayaknya congkak. Berdiri tegak di tengah masyarakat kelas bawah. Terasing dalam rutinitasnya, bertarung dalam bangku-bangku jabatan, dan terjebak dalam positivisme yang kaku dan sombong. Jauh dari realitas. Kampus, lebih dari lima puluh tahun usia, mungkin belum berjalan dan beriringan dengan kebutuhan masyarakat kelas bawah.
Disana dalam setahun, ada dua kali wisuda. Dalam setiap kali wisuda ribuan mahasiwa lulus. Setelah lulus, entah jadi apa, tidak ada data tentang itu. namun, mayoritas ingin jadi PNS. Pegawai negeri. Kampus mencetak kartu prasyarat pekerjaan. Siapa yang mau ijazah, silahkan kuliah di kampus. Syaratnya lulus SMA. Bagi, yang kurang beruntung, ada program mandiri dan smut. Uangnya lebih mahal, jutaan. Disini, kita diajari teori-teori. Jarang orang yang dapat mengecapnya. Maka beruntunglah, katanya.
Sementara di tri dharma perguruan tinggi, ada pengabdian masyarakat. Aku tak begitu paham dengan aplikasi tri dharma ini. maka aku diam, maka aku kecewa. Dan tambalan selesai sudah. Aku pamit, berterima kasih kemudian bayar. Makasih paman tambal ban yang aku pun tak sempat bertanya siapa namamu.
