Pages

Senin, 27 Juni 2011

kampus, tempat kelas menengah


Selasa, 28 juni 2011. Pekan  final test sudah selesai. Banyak mahasiswa pulang kampung. Kampus pun jadi sepi dari aktivitas. Di sudut ruang sekretariat organisasi kemahasiswaan masih ditunggui oleh aktivisnya. Seakan tak mau ikut dengan rutinitas mahasiswa kebanyakan. kantin SBC juga masih buka, masih ada mahasiswa yang nongkrong, dan berkumpul, meski agak sepi.
Pagi ini aku bangun telat lagi, setelah lagi-lagi begadang tadi malam. Di pikiranku masih terbayang beberapa rencana dan angan-angan.
Ku terus mandi dan duduk santai pagi ini. hotspot hidup sebentar, kusempatkan mengedit blog dan facebook. Dan ijul mengajakku maain winning. Beberapa kali main, kami terus untuk makan pagi, lagi-lagi mie instan.
Hanya ada tiga sekumpulan orang yang duduk disana. Tak seperti biasanya. Diam-diam, kami menguping pembicaraan mereka. Ada yang menggosip, ada yang diskusi tentang pr2. Kami hanya sebatas mendengarkan samar pembicaraan mereka.
Mungkin inilah pembicaraan kalangan kampus zaman sekarang. Kampus, bagiku tak lebih dari sekumpulan manusia kelas menengah. Walau, ia punya cerita sejarah yang besar, yang katanya punya kekuatan mendobrak tirani.
Selesai makan, aku beranjak ke paman tambal ban. Tepat di depan kampus, lebih tepat lagi di depan halte unlam. Halte yag dipergunakan oleh paman tambal ban sebagai tempat usahanya, disampingnya ada pangkalan ojek. Terlihat ada lima lelaki duduk santai disana. Di depan mereka duduk, berjejer motor, mereka menunggu pelanggan, entah darimana mereka datang aku tak tahu.
Paman tambal ban, kakinya cacat. Ia kesulitan berjalan karena struktur kakinya yang tidak seimbang. Tapi ia tetap bisa bekerja, untuk menyambung hidup. aku menemukan suatu dari lelaki ini. kehormatan sebagai manusia. Dibalik tampilannya yang terbatas, tersimpan semangat hidup. dan ia tak merasa apa-apa dengan kondisi yang ada padanya. Ia tampak menerima.
Aku duduk di halte itu, ditemani ibu-ibu penjual bensin. Wajahnya tampak familiar karena aku seringkali memang beli bensin dari ia. Aku memandangi paman tambal ban yang terampil membolak-balik penguit ban. Panas terik karena sudah siang hari. Di sebelah, ada paman ojek yang rebahan di pangkalan, kepalanya tidak kelihatan karena ditutup oleh topi. Mungkin itu agar matanya tak silau oleh cahaya matahari. Sementara, lalu lalang kendaraan berlanjut terus tak berhenti.
Tak berapa lama, datang ibu-ibu bersepeda. Rantai sepedanya lepas, ia meminjam obeng dengan paman tambal ban. Kelihatannya ibu bersepeda, ibu penjual bensin, dan paman tambal ban sudah saling kenal. Aku asing sendiri ditengah mereka.
Paman tambal ban membantu ibu bersepeda, memasang rantai yang terlepas, memperbaikinya sebentar. Selesai. Ibu bersepeda membawa banyak barang. Dari informasi ibu penjual bensin, barang bawaan itu adalah barang bekas. Ada sandal-sandal yang masih bagus. Di komplek kayutangi sana, tempatnya orang-orang kaya, mereka sudah tidak memakai lagi sandal-sandal itu. daripada dibuang di tempat sampah, pemulung mengambilnya dan menjualnya kembali pada mereka yang mau membeli, termasuk ibu bersepeda tadi. Bagi mereka, dalam pemanfaatan barang, selama masih bisa diperbaiki kenapa mesti membeli yang baru?
kutangkap dari pembicaraan mereka, suatu hal yang sederhana. Aku tak tahu dari pikiran mereka. aku memandangi lagi kampus unlam.
Aku merasa lagi teringat. Kampus unlam kok kayaknya congkak. Berdiri tegak di tengah masyarakat kelas bawah. Terasing dalam rutinitasnya, bertarung dalam bangku-bangku jabatan, dan terjebak dalam positivisme yang kaku dan sombong. Jauh dari realitas. Kampus, lebih dari lima puluh tahun usia, mungkin belum berjalan dan beriringan dengan kebutuhan masyarakat kelas bawah.
Disana dalam setahun, ada dua kali wisuda. Dalam setiap kali wisuda ribuan mahasiwa lulus. Setelah lulus, entah jadi apa, tidak ada data tentang itu. namun, mayoritas ingin jadi PNS. Pegawai negeri. Kampus mencetak kartu prasyarat pekerjaan. Siapa yang mau ijazah, silahkan kuliah di kampus. Syaratnya lulus SMA. Bagi, yang kurang beruntung, ada program mandiri dan smut. Uangnya lebih mahal, jutaan. Disini, kita diajari teori-teori. Jarang orang yang dapat mengecapnya. Maka beruntunglah, katanya.
Sementara di tri dharma perguruan tinggi, ada pengabdian masyarakat. Aku tak begitu paham dengan aplikasi tri dharma ini. maka aku diam, maka aku kecewa. Dan tambalan selesai sudah. Aku pamit, berterima kasih kemudian bayar. Makasih paman tambal ban yang aku pun tak sempat bertanya siapa namamu.

Minggu, 26 Juni 2011

malam mingguan


Lapangan murdjani agak lain dari biasanya malam ini. ditutupi oleh pagar di sekelilingnya, pagar berwarna putih. Sepertinya mau ada balapan. Dan ini membuat kami harus memutar jalan. Aku dan bahrani malam ini naik motor ke rumah ulfa.
Setelah siang tadi aku pulas tidur di sekretariat, aku masih lemas saat sore. Pandangan masih membayang, kulihat handphone. Ada tiga sms, yang kuingat dari ijul. Isinya menanyakan aku ke banajarbaru. Rencana ini malam mau kumpul2 anak kinday. Aku tak tau pasti berapa jumlah orangnya. Aku sudah bikin janji ikut dengan tia.
Pukul 5 sore hari itu, aku beranjak dari kamar sekre. Sekre memang punya kamar, buat tidur dan menyelinapkan barang-barang yang sifatnya pribadi semacam kasur, kompor, baju, dan bahan makanan. Jadilah kamar itu layak gudang. Tapi digunakan buat tidur. Memang bebal orang-orang yang tidur disini. hehe
Di ruang tengah sekre, ada budi duduk sendiri. membaca apa aku tak tahu dan memang tak mau tahu. Pikiranku masih membayang putih,rabun, masih menyusun memori dari tidur yang panjang. Aku diam. Budi diam. Suasana sepi.
Aku beranjak ke kamar mandi, cuci muka. Segar. Imi baru saja sholat ashar, aku tidak. Kududuk kembali di ruang tengah. Memikirkan rencana ini malam. Berkemas untuk pulang ke banjarbaru, setelah tadi pagi ditolak konsultasi skripsi oleh dosen. “Senin aja ya, ibu hari ini sibuk katanya,” ibu agni berkata kepadaku di ruang dosen. Ah, andai ibu tahu, aku jauh-jauh dari martapura.
Barang sudah dikemas dalam tas. Laptop, beberapa buku bacaan, dan buku tulis. Ya, buku tulis. Kan persma, suka nulis katanya. Makanya demi memenuhi tuntutan citra itu, kurelakan duit Rp. 12.000 untuk membeli buku tulis, cukup tebal. Covernya imut, warnanya biru, kotak kotak. Kupikir, biar nambah kesan ceria. Jadi mau nulis, perasaannya enak gitu. Walau, pas buka dalamnya. Penuh dengan coretan dan tulisan yang tak bagus menurut aku sendiri. tak beraturan, dan membosankan. Isinya catatan harian, catatan kuliah, catatan rencana, catatan belajar, catatan hal-hal penting. Dan di balik cover, ada tulisan motivasi dari aku sendiri buat aku sendiri. bukan untuk kalian. Kalau mau, buat sendiri, aku yakin kalian juga bisa. aku gak mau kalian niru.
Telinga sudah kusumpal dengan headset. Nyambung ke handphone. Nyalain mp3, beres. Tinggal izin ke imi dan budi. Salam tangan, melempar senyum, basa-basi ngajakin ikut, mereka nolak. Sudah, aku pun berangkat dengan motor. Motor yang dari awal aku kuliah, tak pernah berubah.
Di jalan, reggae dan bondan menemaniku. Sambil berdendang di atas motor yang terkadang buat pengendara lain menoleh. Aku acuh. Aku lepas. Bensin jua sudah terisi penuh kemarin.
Sampai akhirnya, senja yang menjadi batas itu berganti melalui gelap. Malamlah sudah, aku masih di jalan. Perjalanan satu jam. Melewati kota, pergudangan, persawahan, perumahan, bandara, paman bakso, paman es kelapa, paman tambal, paman jual bensin, dan banyak lagi paman lainnya.
Kupacu motor dengan kencang sampai akhirnya di gambut aku bertemu dengan bapak-bapak, mendorong gerobak, pelan dan terseok. Aku memperlambat gerak, aku tersadar terlalu cepat. Aku terlalu banyak mengambil jarak dengan waktu, tidak melebur bersamanya, melaluinya dalam sebuah proses yang berjalan santai, tidak tergesa-gesa, tidak meluap-luap, tidak dibayangi dengan obsesi besar. Maka aku pun menarik nafas dalam. Rileks.
Sejam lebih berlalu. Aku sampai di tempat bahrani tidur. Agrotek. Warung mie sudah buka. Aku memesan mie, dari tadi siang belum makan. Disana, bahrani belum ada, yang ada janar, teman tidur bahrani. Dia juga memesan mie. Kami duduk berhadapan, ngobrol. Sama-sama menghadap tivi. Saat itu menayangkan GP. Kami menonton dan memperbincangkan acara itu sesekali. Tertawa, makan lagi, meneguk air. Merokok. Ngobrol lagi. Hingga akhirnya bahrani datang, sendiri, tanpa indra.
Kami jadi bertiga disana, selain paman warung dan pengunjung lain yang aku tak tak tahu namanya, rumahnya, dan kepentinganya apa.
“di daerah sungai lulut itu kumuh ujar bang budi,” bahrani menyalin kembalin kisah bang budi. Rupanya bahrani baru saja ngobrol dengan bang budi. Aktivis yang belum juga dapat pendamping hidup, istri maksudnya.
“iya emang kumuh,” timpalku.
Jelaslah aku tahu, itu jalan yang selalu aku lewati ketika naik motor dari martapura ke banjarmasin dengan mengambil jalur sungai tabuk, menyisir sungai martapura, dan sesekali melewati persawahan dan industri kecil batu bata. Perkampungan yang lumayan jauh dari kota. Tapi modernisasi tak mau kalah disini. budaya barat sudah membaur bersama dengan budaya lainnya.
 “standar kesehatan disana rendah, mereka mandi ngumpul airnya dengan mandinya itik,” bahrani menambahkan lagi.
“iya, itu standar mereka kali. Beda dengan standar kamu, beda dengan standar aku, emang mereka sudah berapa lama seperti itu?” aku jawab sekenanya.
Pembicaraan mengalir panjang. Mulai dari kumuhnya sungai lulut. Sulitnya kehidupan petani kalsel yag mesti bersaing harga dengan produksi beras jawa dan thailand. Banyak penggilingan yang hampir cekak, gulung tikar. Buka hanya saat musim panen. Bertani jadi profesi yang tak menjual bila dilihat dari sisi materiil, uang. Profesi setengah tahunan. Di tengah waktu jeda menunggu panen, petani disibukkan dengan pekerjaan serabutan. Asalkan ada, buat lauk. Ada cerita lain lagi, petani yang hanya menjadi buruh. Upah hanya habis buat membayar hutang. Sepanjang waktu, kesana kemari mencari kerja serabutan. Apa saja.
Aku mencium semangat yang meletup-letup dari anak muda yang satu ini. aku merasakan rentetan rencana yang panjang dari kepalanya. Aku diam dan mencoba menangkap gejala itu, sambil mencoba menyambung omongannya dengan omonganku.
Aku jadi ciut mendengar cerita itu. aku menjadi merasa begitu kecil. Apa yang aku hadapi saat ini, berurusan dengan masalah administrasi dan birokasi. Gelar. Hanya sekelumit masalah. Mereka berjuang untuk hidup. aku saat ini mungkin hanya berjuang untuk lulus sembari berorganisasi.
Pertanyaannya kemudian dan seringkali memang ini yang sering menemui kebuntuan. Realisasi. Lagi-lagi kita bertubrukan dengan “lantas kita mau apa”.
Kalaupun aku boleh jujur. Aku seringkali meragukan apa yang aku jalani hari ini. aku berjuang untuk siapa? Dalam suatu ruang kontemplasi aku merasa bahwa aku tak dapat memberi banyak bagi sejarah hidupku.
Kucoba jalani hidup ini dalam ritmenya. Kembali kutarik nafas, kuhirup dalam. dan waktu menunjukkan pukul 8. Ijul menelepon tidak jadi ikut. Kami hanya berangkat berdua bahrani.  Diruang berbeda, yaitu di rumah ulfa sudah ada ulfa, tia, dan mita. Semuanya anak kinday. Aku dan ulfa seangkatan. Disusul mita, bahrani dan tia. Kami lebur dalam obrolan santai di teras rumah. Suasana sepi di tengah komplek walaupun malam ini malam minggu.
Canda lepas, omongan tak berpagar, sumpah serapah, teguran ramah, senyum palsu dan alami, cerita masa lalu dan rencana di masa depan. Banyak tema yang kami omongkan malam itu. aku senrdiri punya misi datang kesini untuk melihat pengurus baru ini kumpul, tak lebih. Dan ternyata, masih saja sedikit yang bisa. aku maklumi, musim liburan. Dan itu hak mereka untuk pulang, untuk beraktivitas hal lain.
Sampai akhirnya dingin mulai terasa merasuk ke bulu halus di kulit tangan dan aku kekenyangan. Aku izin pulang. Sampai dirumah pukul sebelas malam.
Di rumah, kubuka lagi laptop. Ini laptop pinjaman kakak memang banyak sekali membantu. Terima kasih kakak. Aku membuka postingan-potingan web. Aku membaca sementara tivi juga kunyalakan. Sampai akhirnya aku menulis catatan ini. dan berakhir pada pukul 2.45 wita.

Memposisikan diri sebagai kelas menengah di sengkarutnya ruang kota


Tadi pagi, aku lama sekali tidur. Membaca buku dengan posisi rebahan rupanya membuat mataku tertunduk lesu. Padahal aku sudah menyusun rencana untuk menyelesaikan suatu tugas, tugas kuliah. Tapi sudahlah, masih ada siang hari. Aku pun bangun pukul 13.00 wita.
Tapi kali ini kupinggirkan dulu tugas, untuk sementara waktu. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan disini. suatu kegelisahan mengenai diri, suatu tanya yang tak berujung jawab. Bahkan format tanya itupun tak terkonstruksi dengan baik di otakku.
Kata kunci ini kudapat dari internet. Hasil browsing entah kapan. Membaca artikel-artikel ini membuatkua terpancing jua untuk menuliskannya, kebingungan aku lebih tepatnya. Kota dan kelas menengah. Setidaknya dua kata itu yang membuat aku terpikirkan sejak tadi siang.
Yah, kota. Membayangkan kota selalu saja berujung pada masalah lingkungan, tata kota, kesenjangan kelas, konsumerisme, individualisme, dll. Sehari-hari, ia begitu dekat dengan kita.
Aku kebetulan sudah empat tahun di banjarmasin, ibukota kalimantan selatan. Secara geografis, banjarmasin dipenuhi dengan sungai, yang mengular. Tapi pembangunan jalan darat juga tak mau kalah, sungai terpinggirkan sebagai sarana transportasi. Lihat juga banyak perumahan yang mesti membangun rumah di atas sungai karena tanah sudah mahal dan perumahan murah tak mampu menjangkau mereka. Itu satu contoh kebijakan pembangunan oleh pemerintah. Awalnya memang adalah masalah kemanusiaan, belakangan juga bermasalah pada aspek lingkungan hidup. sanitasi tepatnya.
Coba nanti, pada suatu waktu, ambil satu sudut tempat di banjarmasin yang pas untuk melihat fenomena ini. ambil jarak dengan objek pandang, latar waktu bisa diatur kapan, bisa pagi dengan udara kesegaran. Siang yang terkadang terik. Atau sore yang memancarkan kuning di langit yang berlatar biru muda dan putih. Dibalik kecantikan langit itu, maka lihat agak menunduk, ke bumi, tempat manusia menghuni. Tempat- tempat sederhana yang menyimpan kisah seperti deretan rumah ini yang menghasilkan interpretasi bahasan yang saling bertautan satu sama lain dalam bingkai kota.
Anak yang mandi di sungai, mobil yang lalu lalang di atas jembatan, sampah kaleng coca cola yang sangkut di tiang rumah, macet di perempatan, parkir liar dimana-mana, pengemis yang menjamur, alih fungsi lahan, mall-mall besar, etalase-etalase toko, bunyi tiiiiittt yang beriringan ketika baru saja lampu hijau.
Ruang publik di kota sepertinya semakin membosankan. Bagaimana manusia di dalamnya?
Sore tadi, Aku sempat membaca resensi novel  kota-kota imajiner.
Disana, kota digambarkan sebagai sesuatu yang terus berulang dan membosankan. Semacam penggambaran bahwa tujuan memang takkan pernah habis di kota. Berulang kali mereka mencoba membuat kota yang seputih embun, tak jua mereka dapat dengan yang mereka cari. Calvino (tokoh utama dalam novel) benar-benar membawa pembaca pada sebuah dialektika kemanusiaan. Perubahan apapun boleh terjadi di atas muka bumi ini, tapi pada akhirnya yang tetap tinggal adalah kemanusiaan. Tujuan tak lagi menjadi sesuatu yang lebih penting dari pada proses.
Novel ini sangat imajinatif. Berbeda dengan yang ada kita alami di kota sebenarnya. Tapi, novel ini membuat aku berandai, ada gak ya kota seindah itu.
 Khayalku bertabrakan dengan kenyataan.hasilnya sebuah kontradiksi, aku menjadi semacam hilang harap. Apatis mungkin.

Selasa, 21 Juni 2011

menulis skripsi


Tiba-tiba dani kehilangan hape. “Bungul,” ujar dani ketika melihat hapenya ternyata di bawah kasur. Iya kembali ke tengah ruangan. Ditemani alunan musik, iya menerabas malam. Melawan waktu, menyelesaikan deadline. Skripsi. Target lulus semester ini. malam ini aku cukup. Pikiran sudah bosan. “Saatnya menulis yang bebas,” pikirku dalam hati.
Skripsi. Karya penuh manipulasi. Sarat oleh obsesi, kelulusan. Bisa jua berarti skripsi menjadi tak jujur. Bungkusnya boleh saja oke. Kata disana disiplin ujarnya. Kutipan dipertanggungjawabkan. Ejaannya pun baku, sesuai dengan tata cara penulisan yang baik dan benar. Skripsi boleh jadi membentuk alur pikir seseorang. mungkin saja benar, mungkin pula itu sebenarnya tahap menanamkan pola pikir dosen pembimbing ke mahasiswa. Akhirnya konsultasi, prosesi penyaluran pola pikir itu menjadi niscaya.
Kalau jadinya kuliah untuk ini, sepertinya mahasiswa rugi. Apa yang bisa dibanggakan ketika kita membebek pada pemikiran orang lain. tak bebas.
Padahal, menulis itu adalah cara menyalurkan isi pikiran. Menulis itu hakikatnya sama dengan bicara. Bicara perlu pemikiran, nulis perlu pemikiran. Letak bedanya ada di pertangung jawaban. Menulis meninggalkan jejak. Bicara tidak. Menulis mediumnya jelas. Terlihat oleh mata. bicara mediumnya udara. Ruang hampa. Kecuali ditangkap oleh gelombang bunyi, suara. Pada akhirnya menulis menjadikan kita berhati-hati.
Hati-hati bukan berarti kita selalu takut salah. Hati-hati itu mengingat diri. Dengan ingat diri kita bisa menjadi percaya diri, sabar , tahu batas. Mati adalah tidak menjadi aku. Pikiran mati itu tidak menyadari potensi pikiran sendiri. jadi menulis menghindari mati. Mati dalam artian harfiah pun ditabraknya. Karena menulis membuat abadi. tulisan satu alinea ini dikhususkan untuk pecinta mario teguh yang  dirahmati oleh sekalian alam.
Menulis dan skripsi. Coba aku temukan pada satu arena. Pada satu waktu dan ruang, keduanya berkawan. Di lain kesempatan, ia berada pada garis yang bersilangan. Mengapa?
Skripsi itu menulis dan menghitung. Banyak narasi yang ada disana, narasi yang kaku. Jauh dari realitas. Menuntut suatu bentuk ideal dalam persepsi kalangan positivisme. Didukung oleh grafik dan statistik. Sampai disini, seakan skripsi itu lebih dari menulis.
Aku coba menarik keluar kata menulis diatas dari skripsi. Kubiarkan ia telanjang sendiri. kutarik pada sorot lampu yang baru. Walau Cuma lampu petromak. Mudah-mudahan tak apa.
Menulis itu membuat ingat diri ya tadi? Artinya menulis membuat si penulis berdiri sendiri, bebas dalam perspektif menulis sebagai cara. Namun, jika menulis diperkembangkan dalam pengertian sebagai pengwujudan aktivitas berpikir. Aku kawatir menulis jadi elitis karena ini. semakin dijauhi, terasing.
Jika menulis ditandai sebagai bagian dari cara. Jadinya, menulis menerabas batas skripsi.  Satu loncatan besar ketika menulis dalam pengertian ini dapat menyebar di institusi formal, masuk dalam sistem pendidikan. Semoga.

Senin, 20 Juni 2011

mencari tuhan, meragukan indonesia


Dini hari ini aku masih terjaga, begitu pula temanku disamping, zulfikar. Biasa, kami tidur di sekretariat LPM. Baru saja, kami dari warung. Makan mie instan dan segelas es teh. Berdua, kami mencoba menghubungkan omongan kami dalam satu topik, berganti-ganti.
Kami sama-sama dibesarkan di LPM. Saya tertarik menulis karena LPM dan mengenal orang-orang yang ada disini. kali ini, kami sudah tak lagi menjadi pengurus. Hampir  sudah setahun kepengurusan berganti. Regenerasi memang harus berjalan. Romantika memang menyedihkan. Seketika berupa bangkai, lain waktu ia mewangi dalam ingatan.
Tapi, kami belum lagi usai. LPM mandeg cetak, minim dana dan kader. Cekak. Pengurusnya masih ada. Tapi program kami tak lagi mengikuti. Sepertinya juga mandeg. Ada apa?
Sementara, aku teringat. Aku juga punya tanggung jawab. Sekarang sekjen. Aku risih dalam diam. Apa yang aku lakukan. Aku merasa sendiri, terasing. Aku takut mereka bubar. Dimana-mana penuh ketakutan. Sejenak pikiran itu menghantuiku.
Banyak yang ingin kubagi. Tapi aku juga tak yakin dengan bahan-bahan ini. mungkin kita punya pilihan dan pandangan masing-masing. Baiklah, aku persilakan untuk bebas, terbuka, tapi tidak diam.
Diluar, pikiran meraung-raung. Menunggu selalu untuk ditenangkan oleh laku. Laku tak jua berakhir. Satu laku tuntas, laku lain menunggu. Begitulah, kita selalu dikejar oleh ketaksampaian. Obsesi. Keinginan. Target. Pencapaian.
Mesti kita apa kan ia? Kita paketkan dalam kardus, lakban, kemudian kirim melalui lintasan lurus menuju bongkahan kesombongan-kesombongan. Hingga aku merindu pada satu tawa. Bersama menghitung sisa duit untuk makan malam. Tapi kita tak jua makan, malah berbagi rokok dan minum bersama. Tetap menertawakan langit yang tetap gelap walau bertabur oleh kerlip bintang. Ini bukan dongeng, tolong.
Mungkin tuhan bisa melihat kita dari lubang sana. Dari lubang kecil parit yang becek di tengah pasar. Bersama desah nafas kakek tua yang tergopoh mengangkat air bersih dari PDAM ke rumah-rumah. Aku yakin, tuhan masih bersama mereka. Aku bisa meyakini itu, meski ku tau tuhan tak bersamaku sekarang. Karena tuhan tak mau dengan manusia yang banyak mikir dan rencana. Tuhan apa adanya dengan lugas dan perasaan yang kosong oleh bapak yang namanya keinginan buta.
Dari apatisme manusia sekarang, kulihat celah bagi sebuah jalan. Jalan dari gerakan manusia untuk menantang keadaan yang mencipta, menjebak dalam sistem, kapitalisme. Keserakahan yang berbungkus dengan apa saja. Kesombongan, wibawa, martabat, dan tata laku moral rontok beriringan menuju satu penghancuran struktural, menyeluruh. Mungkin bukan untuk perbaikan, mungkin ini pembalasan. Tapi mungkin pula, ini hanya perlawanan.
Sulit memang menghubungkan tuhan dan indonesia. Kita tak akan pernah menemukan satu titik dimana mereka akan bertemu. Sulit mencari akar indonesia ada pada titik mana, dan merupa pada apa saja. Mungkin pada riuh sungai yang deras di pegunungan, tapi ia terbungkus oleh plastik dalam kemasan air putih berharga. Mungkin lain itu. bisa jadi ia merupa pada tanah hitam yang memiliki aroma khas bila dicium. Meski ia sekarang, rapat tertutup oleh dedaunan sawit yang bercerucuk, berbaris menunggu truk pengangkut. Paling tidak, aku bisa berharap pada gulungan ombak yang ganas, mungkin tak ada tangan yang sampai menuju sana. Ternyata aku tak selalu tepat. Disana, aku masih bisa melihat genangan air limbah bercampur minyak. Membaui. Busuk. Mungkin saja indonesia ada, tapi bukan pada titik waktu ini. titik waktu indonesia yaitu saat kesemua hal besar lebur bersama bumi nusantara, manusia, peradaban, mahluk, dan sesuatu yang lain di alam yang berbeda. Berkumpul, bukan dalam satu kesepakatan formal. Bukan dalam perbincangan setuju atau tidak. Tapi lebih dari sebagai proses pencarian dari jati diri, melalui fragmen-fragmen yang hampir retak di ujung cerita. Ia memancar, mewarnai luka lama akibat kecelakaan sejarah yang menabrak waktu, terlalu cepat. Mungkin aku bisa meragukan indonesia, tapi aku tak bisa meragukan tuhan.