Pages

Minggu, 26 Juni 2011

malam mingguan


Lapangan murdjani agak lain dari biasanya malam ini. ditutupi oleh pagar di sekelilingnya, pagar berwarna putih. Sepertinya mau ada balapan. Dan ini membuat kami harus memutar jalan. Aku dan bahrani malam ini naik motor ke rumah ulfa.
Setelah siang tadi aku pulas tidur di sekretariat, aku masih lemas saat sore. Pandangan masih membayang, kulihat handphone. Ada tiga sms, yang kuingat dari ijul. Isinya menanyakan aku ke banajarbaru. Rencana ini malam mau kumpul2 anak kinday. Aku tak tau pasti berapa jumlah orangnya. Aku sudah bikin janji ikut dengan tia.
Pukul 5 sore hari itu, aku beranjak dari kamar sekre. Sekre memang punya kamar, buat tidur dan menyelinapkan barang-barang yang sifatnya pribadi semacam kasur, kompor, baju, dan bahan makanan. Jadilah kamar itu layak gudang. Tapi digunakan buat tidur. Memang bebal orang-orang yang tidur disini. hehe
Di ruang tengah sekre, ada budi duduk sendiri. membaca apa aku tak tahu dan memang tak mau tahu. Pikiranku masih membayang putih,rabun, masih menyusun memori dari tidur yang panjang. Aku diam. Budi diam. Suasana sepi.
Aku beranjak ke kamar mandi, cuci muka. Segar. Imi baru saja sholat ashar, aku tidak. Kududuk kembali di ruang tengah. Memikirkan rencana ini malam. Berkemas untuk pulang ke banjarbaru, setelah tadi pagi ditolak konsultasi skripsi oleh dosen. “Senin aja ya, ibu hari ini sibuk katanya,” ibu agni berkata kepadaku di ruang dosen. Ah, andai ibu tahu, aku jauh-jauh dari martapura.
Barang sudah dikemas dalam tas. Laptop, beberapa buku bacaan, dan buku tulis. Ya, buku tulis. Kan persma, suka nulis katanya. Makanya demi memenuhi tuntutan citra itu, kurelakan duit Rp. 12.000 untuk membeli buku tulis, cukup tebal. Covernya imut, warnanya biru, kotak kotak. Kupikir, biar nambah kesan ceria. Jadi mau nulis, perasaannya enak gitu. Walau, pas buka dalamnya. Penuh dengan coretan dan tulisan yang tak bagus menurut aku sendiri. tak beraturan, dan membosankan. Isinya catatan harian, catatan kuliah, catatan rencana, catatan belajar, catatan hal-hal penting. Dan di balik cover, ada tulisan motivasi dari aku sendiri buat aku sendiri. bukan untuk kalian. Kalau mau, buat sendiri, aku yakin kalian juga bisa. aku gak mau kalian niru.
Telinga sudah kusumpal dengan headset. Nyambung ke handphone. Nyalain mp3, beres. Tinggal izin ke imi dan budi. Salam tangan, melempar senyum, basa-basi ngajakin ikut, mereka nolak. Sudah, aku pun berangkat dengan motor. Motor yang dari awal aku kuliah, tak pernah berubah.
Di jalan, reggae dan bondan menemaniku. Sambil berdendang di atas motor yang terkadang buat pengendara lain menoleh. Aku acuh. Aku lepas. Bensin jua sudah terisi penuh kemarin.
Sampai akhirnya, senja yang menjadi batas itu berganti melalui gelap. Malamlah sudah, aku masih di jalan. Perjalanan satu jam. Melewati kota, pergudangan, persawahan, perumahan, bandara, paman bakso, paman es kelapa, paman tambal, paman jual bensin, dan banyak lagi paman lainnya.
Kupacu motor dengan kencang sampai akhirnya di gambut aku bertemu dengan bapak-bapak, mendorong gerobak, pelan dan terseok. Aku memperlambat gerak, aku tersadar terlalu cepat. Aku terlalu banyak mengambil jarak dengan waktu, tidak melebur bersamanya, melaluinya dalam sebuah proses yang berjalan santai, tidak tergesa-gesa, tidak meluap-luap, tidak dibayangi dengan obsesi besar. Maka aku pun menarik nafas dalam. Rileks.
Sejam lebih berlalu. Aku sampai di tempat bahrani tidur. Agrotek. Warung mie sudah buka. Aku memesan mie, dari tadi siang belum makan. Disana, bahrani belum ada, yang ada janar, teman tidur bahrani. Dia juga memesan mie. Kami duduk berhadapan, ngobrol. Sama-sama menghadap tivi. Saat itu menayangkan GP. Kami menonton dan memperbincangkan acara itu sesekali. Tertawa, makan lagi, meneguk air. Merokok. Ngobrol lagi. Hingga akhirnya bahrani datang, sendiri, tanpa indra.
Kami jadi bertiga disana, selain paman warung dan pengunjung lain yang aku tak tak tahu namanya, rumahnya, dan kepentinganya apa.
“di daerah sungai lulut itu kumuh ujar bang budi,” bahrani menyalin kembalin kisah bang budi. Rupanya bahrani baru saja ngobrol dengan bang budi. Aktivis yang belum juga dapat pendamping hidup, istri maksudnya.
“iya emang kumuh,” timpalku.
Jelaslah aku tahu, itu jalan yang selalu aku lewati ketika naik motor dari martapura ke banjarmasin dengan mengambil jalur sungai tabuk, menyisir sungai martapura, dan sesekali melewati persawahan dan industri kecil batu bata. Perkampungan yang lumayan jauh dari kota. Tapi modernisasi tak mau kalah disini. budaya barat sudah membaur bersama dengan budaya lainnya.
 “standar kesehatan disana rendah, mereka mandi ngumpul airnya dengan mandinya itik,” bahrani menambahkan lagi.
“iya, itu standar mereka kali. Beda dengan standar kamu, beda dengan standar aku, emang mereka sudah berapa lama seperti itu?” aku jawab sekenanya.
Pembicaraan mengalir panjang. Mulai dari kumuhnya sungai lulut. Sulitnya kehidupan petani kalsel yag mesti bersaing harga dengan produksi beras jawa dan thailand. Banyak penggilingan yang hampir cekak, gulung tikar. Buka hanya saat musim panen. Bertani jadi profesi yang tak menjual bila dilihat dari sisi materiil, uang. Profesi setengah tahunan. Di tengah waktu jeda menunggu panen, petani disibukkan dengan pekerjaan serabutan. Asalkan ada, buat lauk. Ada cerita lain lagi, petani yang hanya menjadi buruh. Upah hanya habis buat membayar hutang. Sepanjang waktu, kesana kemari mencari kerja serabutan. Apa saja.
Aku mencium semangat yang meletup-letup dari anak muda yang satu ini. aku merasakan rentetan rencana yang panjang dari kepalanya. Aku diam dan mencoba menangkap gejala itu, sambil mencoba menyambung omongannya dengan omonganku.
Aku jadi ciut mendengar cerita itu. aku menjadi merasa begitu kecil. Apa yang aku hadapi saat ini, berurusan dengan masalah administrasi dan birokasi. Gelar. Hanya sekelumit masalah. Mereka berjuang untuk hidup. aku saat ini mungkin hanya berjuang untuk lulus sembari berorganisasi.
Pertanyaannya kemudian dan seringkali memang ini yang sering menemui kebuntuan. Realisasi. Lagi-lagi kita bertubrukan dengan “lantas kita mau apa”.
Kalaupun aku boleh jujur. Aku seringkali meragukan apa yang aku jalani hari ini. aku berjuang untuk siapa? Dalam suatu ruang kontemplasi aku merasa bahwa aku tak dapat memberi banyak bagi sejarah hidupku.
Kucoba jalani hidup ini dalam ritmenya. Kembali kutarik nafas, kuhirup dalam. dan waktu menunjukkan pukul 8. Ijul menelepon tidak jadi ikut. Kami hanya berangkat berdua bahrani.  Diruang berbeda, yaitu di rumah ulfa sudah ada ulfa, tia, dan mita. Semuanya anak kinday. Aku dan ulfa seangkatan. Disusul mita, bahrani dan tia. Kami lebur dalam obrolan santai di teras rumah. Suasana sepi di tengah komplek walaupun malam ini malam minggu.
Canda lepas, omongan tak berpagar, sumpah serapah, teguran ramah, senyum palsu dan alami, cerita masa lalu dan rencana di masa depan. Banyak tema yang kami omongkan malam itu. aku senrdiri punya misi datang kesini untuk melihat pengurus baru ini kumpul, tak lebih. Dan ternyata, masih saja sedikit yang bisa. aku maklumi, musim liburan. Dan itu hak mereka untuk pulang, untuk beraktivitas hal lain.
Sampai akhirnya dingin mulai terasa merasuk ke bulu halus di kulit tangan dan aku kekenyangan. Aku izin pulang. Sampai dirumah pukul sebelas malam.
Di rumah, kubuka lagi laptop. Ini laptop pinjaman kakak memang banyak sekali membantu. Terima kasih kakak. Aku membuka postingan-potingan web. Aku membaca sementara tivi juga kunyalakan. Sampai akhirnya aku menulis catatan ini. dan berakhir pada pukul 2.45 wita.

0 komentar:

Posting Komentar