Lama rasanya tak pernah lagi mendengar alunan musik akustik Cahaya Bulan soundtrack film Gie. Malam baru saja mulai, saya baru saja mandi. Saat itu pukul 19.34 wita di Sekretariat LPM Kinday Unlam. Badan rasanya segar sudah. Baiklah, kubuka komputer, niat ingin mendengar alunan lagu. Tak tau apa. Di daftar, cahaya bulan rasanya menarik. Seakan memanggil ingin meminta perhatian. Ya sudah, kuturuti.
Dan ternyata, aku terpancing untuk mengulangnya lagi. Mengamati larik demi larik puisinya. Beberapa kali kucoba mengulang, aku merasakan keresahan. Semacam tanya yang tak pernah terjawab pada realitas. Aku dibawa kembali untuk memikirkan essensi, mungkin karena selama ini larut dalam rutinitas yang tak melibatkan proses mencari kembali sesuatu. Ia saya kira yang khawatir pada berjalannya waktu dan perubahan-perubahan yang menggiringnya kemudian.
“Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram”. Ujar Gie dalam puisinya, ia mencoba menggiring kekasih dalam puisinya untuk merasakan realitas. Disini, saya coba memposisikan kekasih dalam puisi itu sebagai kita, penikmat. Ia yang seorang eksistensialis seakan membawa kita pada kondisi yang serupa dirinya. Ia mengajak kita untuk merasakan semacam keresahan dalam mencari nilai-nilai dari kehidupan.
Eksistensialis? Kuingat Sartre, dari sekilas kubaca buku. Sartre, seorang yang juga eksistensialis. Sartre yang mengajak kita berpikir dan merekam ulang jejak pemikiran sejak jaman Socrates hingga kita digiring pada kondisi yang serupa saat ini.
“Eksistensi mendahului essensi”, ujar Sartre. Essensi berupa tatanan nilai hidup. Dan eksistensi pada manusia diartikannya sebagai ada untuk dirinya sendiri. Dari sana, manusia sejak lahir berada pada kondisi yang benar-benar bebas, untuk dirinya sendiri. Manusia membentuk nilainya sendiri, essensinya sendiri. Dengan anggapan bahwa manusia dengan pikirannya, dengan pembentukan nilainya sendiri menggiringnya pada konsekuensi bawaan, tanggung jawab.
Menarik garis persepsi Sartre pada yang namanya eksistensi, aku menemukan gambaran bahwa awalnya manusia terlahir dalam kondisi yang utuh, ke dunia yang samar dan tak jelas arah ceritanya. Tapi aku tidak menemukan bagaimana kita pada titik ujung, kematian. Mungkin akan lebih panjang lagi, bahwa kematian itu sendiri memiliki ambiguitas makna didalamnya. Bahwa mati itu bisa berupa tak bergerak, tak berpikir, tak berlaku, tak bebas. Jadi, mati itu tidak final pada jasad yang tak bernyawa.
Lantas kemudian, bagaimana agar kita tidak mati? Hingga ini, bisakah kita maknakan bahwa eksistensi berarti hidup? “Dengan eksistensi” lanjut Sartre, “pada tiap generasi, bahkan tiap diri, kita menemukan tanya-tanya filosofis yang menjadi pengingat kesadaran kita tentang kehidupan.”
Tanya yang tak pernah selesai pada alam. Melalui alam, melalui penaklukan gunung-gunung, gie justru semakin tak pernah sampai pada tanyanya tentang dunia. Dari keras pendiriannya, kita belajar tentang keyakinan menjalani pilihan-pilihan. Karena kebebasan justru mengutuk kita pada pilihan-pilihan. Apa pun pilihan itu, ada konsekuensi yang menggiringnya di belakang.

0 komentar:
Posting Komentar