Pages

Minggu, 26 Juni 2011

Memposisikan diri sebagai kelas menengah di sengkarutnya ruang kota


Tadi pagi, aku lama sekali tidur. Membaca buku dengan posisi rebahan rupanya membuat mataku tertunduk lesu. Padahal aku sudah menyusun rencana untuk menyelesaikan suatu tugas, tugas kuliah. Tapi sudahlah, masih ada siang hari. Aku pun bangun pukul 13.00 wita.
Tapi kali ini kupinggirkan dulu tugas, untuk sementara waktu. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan disini. suatu kegelisahan mengenai diri, suatu tanya yang tak berujung jawab. Bahkan format tanya itupun tak terkonstruksi dengan baik di otakku.
Kata kunci ini kudapat dari internet. Hasil browsing entah kapan. Membaca artikel-artikel ini membuatkua terpancing jua untuk menuliskannya, kebingungan aku lebih tepatnya. Kota dan kelas menengah. Setidaknya dua kata itu yang membuat aku terpikirkan sejak tadi siang.
Yah, kota. Membayangkan kota selalu saja berujung pada masalah lingkungan, tata kota, kesenjangan kelas, konsumerisme, individualisme, dll. Sehari-hari, ia begitu dekat dengan kita.
Aku kebetulan sudah empat tahun di banjarmasin, ibukota kalimantan selatan. Secara geografis, banjarmasin dipenuhi dengan sungai, yang mengular. Tapi pembangunan jalan darat juga tak mau kalah, sungai terpinggirkan sebagai sarana transportasi. Lihat juga banyak perumahan yang mesti membangun rumah di atas sungai karena tanah sudah mahal dan perumahan murah tak mampu menjangkau mereka. Itu satu contoh kebijakan pembangunan oleh pemerintah. Awalnya memang adalah masalah kemanusiaan, belakangan juga bermasalah pada aspek lingkungan hidup. sanitasi tepatnya.
Coba nanti, pada suatu waktu, ambil satu sudut tempat di banjarmasin yang pas untuk melihat fenomena ini. ambil jarak dengan objek pandang, latar waktu bisa diatur kapan, bisa pagi dengan udara kesegaran. Siang yang terkadang terik. Atau sore yang memancarkan kuning di langit yang berlatar biru muda dan putih. Dibalik kecantikan langit itu, maka lihat agak menunduk, ke bumi, tempat manusia menghuni. Tempat- tempat sederhana yang menyimpan kisah seperti deretan rumah ini yang menghasilkan interpretasi bahasan yang saling bertautan satu sama lain dalam bingkai kota.
Anak yang mandi di sungai, mobil yang lalu lalang di atas jembatan, sampah kaleng coca cola yang sangkut di tiang rumah, macet di perempatan, parkir liar dimana-mana, pengemis yang menjamur, alih fungsi lahan, mall-mall besar, etalase-etalase toko, bunyi tiiiiittt yang beriringan ketika baru saja lampu hijau.
Ruang publik di kota sepertinya semakin membosankan. Bagaimana manusia di dalamnya?
Sore tadi, Aku sempat membaca resensi novel  kota-kota imajiner.
Disana, kota digambarkan sebagai sesuatu yang terus berulang dan membosankan. Semacam penggambaran bahwa tujuan memang takkan pernah habis di kota. Berulang kali mereka mencoba membuat kota yang seputih embun, tak jua mereka dapat dengan yang mereka cari. Calvino (tokoh utama dalam novel) benar-benar membawa pembaca pada sebuah dialektika kemanusiaan. Perubahan apapun boleh terjadi di atas muka bumi ini, tapi pada akhirnya yang tetap tinggal adalah kemanusiaan. Tujuan tak lagi menjadi sesuatu yang lebih penting dari pada proses.
Novel ini sangat imajinatif. Berbeda dengan yang ada kita alami di kota sebenarnya. Tapi, novel ini membuat aku berandai, ada gak ya kota seindah itu.
 Khayalku bertabrakan dengan kenyataan.hasilnya sebuah kontradiksi, aku menjadi semacam hilang harap. Apatis mungkin.

0 komentar:

Posting Komentar