Pages

Senin, 18 April 2011

pongah menipu


Tinggi menjulang, seakan berani menantang langit
Congkak, dengan perhatian seiktar-sekitar
Menyemut dalam pandangan
Ada tanda kehidupan dari peradaban busuk
Yang dipenuhi oleh kompromi-kompromi
Siapa sangka, berlapis emas?
Awas tipuan, adalah jebakan..
Jika diam adalah tanda perlawanan
Sayang itu tidak banyak, dan terkadang memang perlu meradang
Tapi masihkah pantas untuk bertanya
Tentang semuanya dengan dia
Kala mereka telah begitu kuat
Dan akhirnya terasing dalam siang yang terik dan hujan yang bergilir, datang bergantian

carut protes kata


Malam ini adalah pertanda dari sebuah kesunyian
Sendiri di tengah keterasingan
Di tengah orang-orang yang diam
Ilusi, dan bayangan

Asap kering dari dedaunan yang dibakar sehabis senja itu
Mengepul diantara bising mesin-mesin
Dan anak-anak masih berlarian penuh peluh
Diantara rapatnya waktu dan keadaan

Nikmat hanya sebagai jalan
Dan sesaat itu begitu menipu
Tapi menyerah juga tanda kekalahan
Mengamini lantas pergi

Sepertinya memang harus diteruskan
Dalam bingkai yang seperti biasa
Dengan mereka yang  masih tertawa polos
Dan aku dengan sejuta tanya,..

Hingga cahaya itu..
Ya, cahaya yang aku pun tak mengerti..
***
Siapa yang masih perduli dengan kesadaran
Ada segerombol kafilah yang datang dengan deretan dalil
Dan tentang kesadaran itu terbawa bersama angin timur
Menuju tenggelamnya matahari
Konsepsi tentang perdamaian datang dari berbagai sudut
Diatas, dengan legitimasi yang menyeluruh
Dan kita mau apa? Melawan sesuai hati nurani?
Lantas saat ini nurani siapa yang bisa kita andalkan?
Masih percaya kah kalian dengan nurani yang diangkakan dalam uang?
Apakah aku terlalu paranoid dengan semuanya
Dengan dendam yang tersembunyi dalam hati hitam
Menyesakkan
Sobat, sambut aku dengan perlawanan
Kemudian bunuh aku
Teka-teki ini kukira akan terbuka
Dan aku menang
***
Kau adalah sendiri
Kau adalah kekuatan
Kau adalah lubang hitam
Kau adalah komoditi
Kau adalah pemikat
Kau dalah penyelamat
Kau adalah pemuas
Kau adalah kesedihan
Kau adalah misteri
Kau adalah persoalan
Kau adalah bukan kau
Karena kau adalah bayangan
***

kuat yang hambar


Mata menyipit ditilik oleh cahaya terang
Disapu oleh angin yang datang mewaktu dalam keselarasan
Sementara ombak pastilah datang di setiap waktu
Di setiap jeda tarikan nafas, menghela
Abu-abu pasir pantai
Serupa dengan air laut
Bervariasi dengan buih-buih putih
Tidak ada yang berubah
Kecuali sampah-sampah plastik yang berserakan memenuhi garis pantai
Menghalangi gerak penyu-penyu untuk ke tengah laut
Apa yang menarik dari semua itu?
Tidak ada kisah, tidak ada denyut perasaan yang meledak-ledak
Hari berlalu tak terasa, merekam jejak tualang seorang lelaki
Dia yang terdampar di bibir pantai
Kini dalam kedalaman , sesak
Menampar ombak dengan gempalan kuat
Namun hambar, tak berasa ...

Rabu, 06 April 2011

lalu percaya?


Apa itu kepercayaan?apakah sebatas cara untuk sebuah pencarian tentang sesuatu yang maha kuat. Zaman penuh dengan cerita palsu dari bibir yang sudah hampir busuk karena dusta yang menyemut perlahan memangsa. Dan kepercayaan dibawa sebagai sebuah komoditi bagi pemeluk-pemeluknya. Adakah sebuah jalan bagi tidak adanya rasa untuk tidak saling menyalahkan. Mungkin saja sebuah konspirasi besar datang dari setiap sudut dan golongan untuk menguasai pemikiran manusia-manusia yang buta dalam rasa. Tapi untuk selalu saja mereka-mereka adalah tindakan bodoh yang bermuara pada kemunafikan. Aku, kamu, kita punya kebebasan untuk menerawang jauh di pikiran, termasuk pula kepercayaan. Kepercayaan adalah barang intim orang per orang yang bisa lahir dari rasionalitas dan pengalaman selama menjalani kehidupan. Lantas, apa keuntungan kepercayaan itu melembaga dalam sebuah agama formil. Lantas, apakah itu seseorang ang dalam konstitusi tidak menjadi pemeluk agama resmi itu mesti diluluhlantakkan?atau dibiarkan hidup tetapi dikucilkan? Ah….