MENINGKATKAN INTERAKSI BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VIII-E SMP NEGERI 2 MARTAPURA TAHUN PELAJARAN 2010/2011 MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT)
I. Latar Belakang
Sistem penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (1) penilaian hasil belajar oleh pendidik, (2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan (3) penilaian hasil belajar oleh pemerintah. (Standar Nasional Pendidikan, PP 19 thn 2005)
Kelas adalah wadah belajar yang paling representatif untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Maka dari itu penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan penilaian yang sangat penting karena langsung berkaitan dengan perkembangan siswa. Di kelas, pendidik tidak hanya melakukan penilaian terhadap hasil belajar secara langsung, akan tetapi juga bisa memantau perkembangan proses pembelajaran yang terjadi. Proses pembelajaran tersebut bisa dilihat dari adanya interaksi belajar. Karena pada hakikatnya, kita sebagai mahluk sosial tidak bisa terlepas dari interaksi, termasuk dalam hal pembelajaran di kelas.
Mulyasa (2009) mengemukakan bahwa tujuan interaksi pembelajaran merupakan titik temu yang bersifat mengikat dan mengarahkan aktivitas kedua belah pihak. Pembelajaran konvensional yang lebih menempatkan komunikasi satu arah, dimana guru menjelaskan dan siswa mendengarkan terbantahkan disini. Artinya, kedua pihak secara aktif terlibat dalam kerangka kerja serta dengan menggunakan cara dan kerangka berpikir yang seyogyanya dipahami bersama.
Interaksi dalam pembelajaran merupakan hal yang penting untuk membangun suasana belajar yang terbuka, kondusif, dan inovatif. Interaksi belajar meliputi interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan materi, dan siswa dengan sumber bahan. Interaksi bertujuan menghindari adanya dominasi guru dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi di Kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura, kegiatan belajar mengajar matematika di kelas tersebut terdapat beberapa permasalahan seperti : (1) siswa jarang memperhatikan penjelasan materi pembelajaran dari guru; (2) siswa jarang mengajukan pertanyaan atau tanggapan kepada siswa yang lain atau kepada guru, walaupun guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya; (3) keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang, misal pada saat latihan mengerjakan soal, siswa hanya menunggu jawaban yang tertera di depan kelas; (4) siswa tidak menanggapi soal-soal latihan dari guru, kecuali bila disuruh mengerjakan di depan kelas; (5) komunikasi satu arah selama proses pembelajaran, yaitu guru menjelaskan materi sementara siswa mendengarkan dan mencatat pelajaran saja, jarang sekali ada tanggapan balik dari siswa.
Wawancara dengan Abdullah, S.Pd, guru matematika kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura menemukan masalah bahwa siswa secara keseluruhan kurang mengikuti proses pembelajaran. Siswa cenderung pasif dan menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh guru merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal. Sehingga siswa kurang berminat mendiskusikannya kembali antar sesama siswa. Di kelas, siswa yang antusias mengikuti pembelajaran sangat sedikit dibandingkan siswa yang diam. Kemampuan dasar mayoritas siswa dalam matematika seperti teknik menghitung masih lamban. Kurangnya keterampilan ini dianalisis oleh Abdullah,S.Pd sebagai alasan mengapa siswa kurang merespon terhadap mata pelajaran matematika.
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura mengenai suasana belajar matematika di kelas, mayoritas kurang menyukai metode ceramah yang selama ini dipraktekkan guru. Mayoritas mengaku lebih suka diam dan tidak menghiraukan penjelasan guru daripada merespon pembelajaran karena tidak bisa mengikuti alur pembelajaran dari guru.
Mengacu pada hasil observasi maupun hasil wawancara dengan guru dan siswa, masalah yang terdapat pada kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura adalah tentang interaksi belajar matematika.
Alternatif tindakan yang diberikan oleh peneliti adalah dengan mengarahkan siswa agar lebih aktif dan terlibat lebih jauh sebagai subjek dalam proses pembelajaran. Sebisa mungkin siswa diarahkan untuk berani merespon, bertanya, menjawab, maupun menyanggah pendapat dari siswa yang lain, maupun dari guru. Kemudian, siswa diharapkan bisa bertanggung jawab terhadap pendapatnya. Melihat dari upaya pencarian alternatif tindakan tersebut, dikembangkanlah sebuah model pembelajaran.
Adapun model pembelajaran yang akan peneliti ajukan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Sebagaimana model pembelajaran kooperatif lainnya, Numbered Head Together bermaksud agar siswa terlibat aktif dalam kelompok-kelompok kerja. Kelompok kerja disini berbentuk heterogen dari kacamata prestasi.
Terdapat keterkaitan antara interaksi belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together. Masalah belajar yang dapat diatasi melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) antara lain: (1) komunikasi satu arah antara guru dengan siswa. Di dalam NHT, guru melakukan pemanggilan nomor bagi tiap kelompok kemudian nomor yang terpilih untuk mempresentasikan hasil diskusi dengan nomor tersebut. Sehingga guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator dan pengarah selama kegiatan pembelajaran; (2) interaksi antar siswa. Dengan tiap siswa yang mendapatkan pemanggilan nomor untuk mempresentasikan hasil diskusinya kemudian didiskusikan dalam kelas. Terjadi komunikasi antar siswa baik itu dalam kelompoknya maupun antar kelompok dalam kelas; (3) interaksi siswa dengan materi pelajaran. Di dalam NHT, siswa memiliki tanggung jawab tiap individu sesuai penomoran yang ada. Dengan adanya tanggung jawab siswa terhadap kelompoknya tersebut, siswa terpacu untuk mempelajari materi pembelajaran; (4) interaksi siswa dengan sumber bahan. Hal ini dimaksudkan bagi siswa yang mempunyai inisiatif tinggi untuk memahami materi yang ada pada kelompoknya.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Husnul Khatimah (2010) pada siswa kelas IXD SMP Negeri 17 Banjarmasin Pada Mata Pelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) memperlihatkan peningkatan aktivitas belajar. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IXD SMP Negeri 17 Banjarmasin pada mata pelajaran matematika tahun pelajaran 2010/2011 yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan materi, dan siswa dengan sumber bahan.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengajukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “Meningkatkan Interaksi Belajar Matematika pada Siswa Kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura Tahun Pelajaran 2010/2011 Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)”.
II. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan diteliti adalah “ apakah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan interaksi belajar matematika pada siswa kelas VIII-E SMPN 2 Martapura Tahun Pelajaran 2010/2011?”
III. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :
a. Meningkatkan Interaksi Belajar Matematika pada Siswa Kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura Tahun Pelajaran 2010/2011 Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT).
b. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura Tahun Pelajaran 2010/2011 Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)
IV. Manfaat Penelitian
4.1 Manfaat Teoritis
Secara umum, penelitian ini memberikan sumbangan pada dunia pendidikan dalam pengajaran matematika bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan interaksi belajar matematika siswa.
4.2 Manfaat Praktis
1. Bagi peneliti, dapat meningkatkan kemampuan peneliti dalam mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sehingga dapat berguna bagi peneliti nantinya ketika menjadi guru.
2. Bagi siswa, penelitian ini dapat meningkatkan interaksi belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
3. Bagi guru, penelitian ini merupakan masukan dalam memperluas pengetahuan dan wawasan tentang model pembelajaran terutama dalam rangka meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.
4. Bagi sekolah, penelitian ini memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan model pembelajaran matematika.
V. Kajian Teoritis
5.1 Belajar dan Prinsip-prinsip Belajar
Istilah belajar telah lama menjadi bahan kajian para pakar terutama pakar pendidikan. Silang sengkarut pendapat pakar pendidikan mengenai definisi belajar sesuai dengan bidang kajian tiap pakar, namun pada hakikatnya tercapai satu maksud yang kurang lebih sama. Menurut Winkel (Riyanto, 2010) belajar adalah suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas.
Gagne (Suprijono, 2010) merumuskan belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. Menurut Syah (2003) belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses dengan berbagai aktivitas yang melibatkan interaksi siswa dengan lingkungannya serta menghasilkan adanya perubahan pengetahuan dan tingkah laku.
Di dalam proses belajar diperlukan adanya prinsip – prinsip belajar yang menjadi asas (kaidah dasar) pelaksanaan belajar mengajar . Prinsip-prinsip belajar bisa dikatakan sebagai landasan berpijak agar tujuan pembelajaran dapat tercapai serta lahirnya lingkungan belajar yang kondusif serta terarah.
Prinsip belajar menurut Slameto (2003) adalah sebagai berikut :
a. Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar
1. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional;
2. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan intruksional;
3. Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif;
4. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.
b. Sesuai hakikat belajar
1. Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya;
2. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery;
3. Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yangs atu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan response yang diharapkan.
c. Sesuai materi/ bahan yang dipelajari
1. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya;
2. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainya.
d. Syarat keberhasilan belajar
1. Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang;
2. Repetisi, dalam proses belajar perlu pengulangan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada siswa.
Demikianlah prinsip-prinsip belajar yang menjadi landasan gerak sebelum melaksanakan proses belajar di kelas. Prinsip belajar layak diketahui oleh pendidik agar dalam perencanaan pembelajaran pendidik dapat menentukan arah proses pembelajaran di tiap kali pertemuan. Kemudian dengan mengetahui prinsip-prinsip belajar, lingkungan belajar di kelas akan semakin terarah melalui interaksi belajar yang melibatkan semua pelaku dalam kelas.
5.2 Interaksi Belajar
Sebagai mahluk sosial, manusia dalam kehidupannya membutuhkan hubungan dengan manusia yang lain. kecenderungan manusia untuk berhubungan melahirkan komunikasi dua arah melalui bahasa yang tindakan dan perbuatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi berarti hubungan atau saling mempengaruhi.
Nisriyana (2007) berpendapat bahwa interaksi mengandung pengertian hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.
Lalu kaitan antara interaksi dalam konteks pembelajaran diterangkan Djamarah (1997) bahwa interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan anak didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Dwi (2009) interaksi dalam proses pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bersifat interaktif dari berbagai komponen untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran.
Dapat disimpulkan bahwa interaksi belajar merupakan hubungan komunikasi antara pelaku belajar baik itu guru maupun siswa dalam mencapai tujuan belajar yang telah dipahami bersama.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) interaksi belajar mengajar meliputi:
(1) interaksi siswa dengan siswa
Interaksi ini meliputi aktivitas mengungkapkan pendapat pada saat diskusi kelompok, saling bekerja sama, mengajarkan pada teman sekelompok dan saling memotivasi.
(2) interaksi siswa dengan guru
Interaksi ini meliputi aktivitas siswa dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh guru, menanyakan hal-hal yang belum dimengerti, mengerjakan tugas/latihan yang diberikan oleh guru, serta memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari guru.
Lindgren (Dimiyati dan Mudjiono, 2002) mengemukakan 4 (empat) kemungkinan interaksi siswa dengan guru dalam pembelajaran, yakni:
(i) interaksi satu arah, dimana guru bertindak sebagai penyampai pesan dan siswa penerima pesan,
(ii) interaksi dua arah antara guru-siswa, dimana guru memperoleh balikan dari siswa,
(iii) interaksi dua arah antara guru-siswa dimana guru mendapat balikan dari siswa. Selain itu, siswa saling berinteraksi atau saling belajar satu dengan yang lain,
(iv) interaksi optimal antara guru-siswa, dan antara siswa-siswa.
(3) interaksi siswa dengan materi
Interaksi ini meliputi aktivitas siswa yang terjadi ketika siswa memahami materi yang disampaikan oleh guru, maupun saat siswa mengerjakan soal-soal tentang materi yang dipelajari.
(4) interaksi siswa dengan sumber bahan
Interaksi ini meliputi aktivitas siswa seperti membaca dan aktif mencari serta memanfaatkan sumber-sumber pelajaran yang ada di buku pelajaran yang dimiliki siswa maupun di perpustakaan (untuk siswa kelompok tinggi).
Pada tiap proses interaksi belajar membentuk pola-pola tertentu yang bergantung pada keterampilan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran di kelas. Moh. Uzer Usman (Djamarah, 1997) mengemukakan berbagai jenis pola interaksi yang terjadi antara guru-siswa, maupun siswa-siswa:
(a)
Pola guru-anak didik
Pola guru-anak didik
|
(b)
Pola guru-anak didik-guru
|
Pola guru-anak didik-guru(c)
Pola guru-anak didik-anak didik
Pola guru-anak didik-anak didik
|
(d)
Pola guru-anak didik, anak didik-guru, anak didik-anak didik
Pola guru-anak didik, anak didik-guru, anak didik-anak didik
|
(e)
Pola melingkar
|
Pola melingkarDemikian berbagai macam pola interaksi yang terjadi dari berbagai macam komunikasi yang terjadi di kelas. Namun, akhir-akhir ini para ahli dalam pendidikan modern lebih menitikberatkan pada pola komunikasi sebagai transaksi.
5.3 Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas (Tim MKPBM, 2001). Beberapa model pembelajaran menurut Suprijono (2009) antara lain model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran langsung dan model pembelajaran berbasis masalah. Salah satu model pembelajaran alternatif yang dapat membantu siswa mengkonstruksikan pengalaman belajarnya sendiri adalah model pembelajaran kooperatif.
Menurut Slavin (2008), Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merajuk pada berbagai macam metode pembelajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran.
Menurut Riyanto (2010), pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill) sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpesonal skill.
Kaitannya dengan interaksi yang terjadi di kelas, model pembelajaran kooperatif dalam hal ini adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada terjadinya interaksi pada siswa maupun guru. Hal ini diyakinkan oleh Anita Lie (Suprijono, 2010) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif didasarkan pada falsafah homo homini socius. Falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial.
Lima prinsip yang mendasari pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Positive independence artinya adanya saling ketergantungan positif yakni anggota kelompok menyadari pentingnya kerja sama dalam pencapaian tujuan.
2. Face to face interaction artinya antar anggota berinteraksi dengan saling berhadapan.
3. Individual accountability artinya setiap anggota kelompok harus belajar dan aktif memberikan kontribusi untuk mencapai keberhasilan kelompok.
4. Use to collaborative/ social skill artinya harus menggunakan keterampilan bekerja sama dan bersosialisasi. Agar siswa mampu berkolaborasi perlu adanya bimbingan guru.
5. Group processing artinya siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektif.
Adapun pembelajaran kooperatif menurut Riyanto (2010) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Kelompok dibentuk dengan siswa kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
2. Siswa dalam kelompok sehidup semati.
3. Siswa melihat semua anggota mempunyai tujuan yang sama.
4. Membagi tugas dan tanggung jawab sama.
5. Akan dievaluasi untuk semua.
6. Berbagi kepemimpinan dan keterampilan untuk bekerja bersama.
7. Diminta mempertanggungjawabkan individual materi yang ditangani.
Model pembelajaran kooperatif memiliki enam langkah utama yang dapat dirangkum pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ada 6 (enam) fase
| FASE-FASE | PERILAKU GURU |
| Fase 1 : menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak didik | Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa siap belajar |
| Fase 2 : menyajikan informasi | Mempresentasikan informasi kepada siswa secara verbal |
| Fase 3 : mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar | Memberikan penjelasan kepada siswa tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien |
| Fase 4 : membantu kerja tim dan belajar | Membantu tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugasnya |
| Fase 5 : mengevaluasi | Menguji pengetahuan siswa mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya |
| Fase 6 : memberikan pengakuan atau penghargaan | Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok |
(Suprijono, 2010)
5.4 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) dalam Ibrahim (Herdian, 2009) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil belajar akademik struktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan sosial
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagan dalam Ibrahim dengan tiga langkah yaitu :
a) Pembentukan kelompok;
b) Diskusi masalah;
c) Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim menjadi enam langkah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat skenario pembelajaran (SP), lembar kerja siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai hasil ujian tengah semester (UTS) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat meningkatkan interaksi belajar siswa, karena model pembelajaran ini menekankan pada keterlibatan siswa secara penuh terhadap proses pembelajaran. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT menghindari adanya dominasi yang tercipta di kelas. Dengan cara pemanggilan nomor pada tiap kelompok, tiap siswa menjadi terlibat dalam proses menjawab, bertanya, maupun menyanggah suatu permasalahan terkait dengan materi pembelajaran.
Adapun kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini adalah :
(1) semua anggota kelompok terdiri dari yang pintar, agak pintar dan kurang (heterogen) dimana yang pintar membantu teman-temanya yang lain
(2) karena berkelompok yang terdiri dari beberapa orang membuat masalah sangat cepat untuk dikerjakan
(3) dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh sehingga semua anggota menjadi siap semua
(4) semua anggota kelompok bertanggung jawab atas kelompoknya, jika satu gagal maka gagal sekelompok bukan perorangan
Sedangkan kelemahannya adalah :
(1) kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru
(2) tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru
5.6 Pembelajaran Matematika Di sekolah Menengah Pertama
Matematika menurut Johnson dan Myklebust (Abdurrahman, 1998) adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Kline (Abdurrahman, 1998) mengemukakan bahwa matematika merupakan bahasa simbolik dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif.
Matematika sebagai ilmu dasar, telah berkembang sangat pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga, pembelajaran Matematika mesti dilaksanakan di sekolah sebagai pembekalan bagi siswa dalam menghadapi permasalahan sehari-hari.
Matematika di sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu memiliki objek kejadian yang abstrak serta berpola pikir deduktif konsisten.(MKPBM, 2001)
Secara rinci tujuan pengajaran matematika di SMP agar (MKPBM, 2001) :
(1) siswa memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika;
(2) siswa memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke pendidikan menengah;
(3) siswa memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan dari matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari;
(4) siswa memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis, cermat, dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika.
5.7 Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif Tipe NHT dapat meningkatkan interaksi belajar matematika pada siswa kelas VIII-E SMPN 2 Martapura Tahun Pelajaran 2010/2011.
VI. Metode Penelitian
6.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini dirancang dan dilaksanakan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK adalah penelitian tindakan atau action research yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran (Suhardjono, 2008).
Definisi yang lain dikemukakan oleh Kunandar (2008) yang mendefinisikan PTK sebagai suatu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam suatu siklus.
Secara umum, PTK dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang-ulang, empat bagian utama yang ada dalam setiap siklus adalah sebagai berikut : (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting) (Iskandar, 2009).
6.1.1 Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas pada siswa kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 31 orang siswa. Objek penelitian adalah interaksi belajar siswa kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura tahun pelajaran 2010/2011.
6.1.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 di kelas VIII-E SMP Negeri 2 Martapura yang beralamat di Jalan Kertak Baru Desa Pakauman, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2011.
6.1.3 Rencana Tindakan
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini direncanakan terdiri dari dua siklus. Dimana siklus pertama dilaksanakan 4 kali pertemuan yaitu 10 jam pelajaran ,dan siklus kedua 4 kali pertemuan yaitu 10 jam pelajaran.
Tabel 2 : Rencana tindakan siklus I dan siklus II
| Siklus I | Perencanaan awal | Pengamatan langsung proses pembelajaran di kelas,diskusi tim peneliti tentang masalah yang terjadi dikelas, merumuskan permasalahan yang terjadi ,mengidentifikasi masalah pokok, dan menyusun hipotesis pemecahan |
| | Perencanaan | Tim mendiskusikan ”tindakan”yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah yang dijumpai. Menyusun rencana / skenario ”tindakan” (model kooperatif tipe NHT), meng gumpulkan bahan dan media pembelajaran, mengumpulkan informasi tentang kemampuan siswa, mendesain LKS dan alat evaluasi. |
| | Tindakan | Peneliti melakukan tindakan (pembelajaran) sesuai dengan skenario yang sudah dirancang (menjelaskan materi, pengarahan, buat kelompok heterogen, membuat penomoran pada tiap siswa dalam tiap kelompok, mengerjakan LKS, melakukan pemanggilan pada tiap nomor dan tiap nomor yang dipanggil mempresentasikan hasil diskusi, dikusi, dan penarikan kesimpulan. |
| | Pengamatan | Guru yang lainya bertindak sebagai pengamat, dengan cara mengamati kegiatan pembelajaran selama siklus satu berlangsung dengan mengisi angket pengamatan yang sudah tersedia |
| | Refleksi | Melakukan evaluasi tindakan I untuk siswa, hasil observasi mengenai interaksi belajar siswa pada siklus I dijadikan acuan untuk melakukan penelitian siklus II. |
| Siklus II | Perencanaan | Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah ,dan pengembangan program tindakan II |
| | Tindakan | Pelaksanaan program tindakan II |
| | Pengamatan | Pengumpulan data tindakan II |
| | Refleksi | Evaluasi tindakan II |
Dari hasil penilaian siklus I dan siklus II akan terlihat perbedaan antara pembelajaran yang rutin dilaksanakan guru (sebelum dilaksanakan tindakan kelas) dengan sesudah dilaksanakannya tindakan kelas.
6.2 Teknik Pengumpulan Data dan Analisa Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
(1) Lembar observasi
Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai interaksi belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT dan dilaksanakan oleh pengamat atau observer.
(2) Dokumentasi
Dokumentasi ini berupa nilai ulangan akhir semester (UAS) siswa yang diperoleh dari guru mata pelajaran matematika pada kelas VIII E SMP Negeri 2 Martapura.
(3) Tes
Tes dilakukan dengan cara memberikan tes hasil belajar kepada siswa yaitu berupa soal-soal sebagai evaluasi di setiap akhir siklus.
Instrumen tes yang digunakan berbentuk pilihan ganda sebanyak 10 soal pada evaluasi siklus I dan sebanyak 10 soal pada evaluasi siklus II, dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
(a) Standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan materi pokok yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
(b) Buku-buku pelajaran matematika yang digunakan disekolah tempat penelitian dilaksanakan dan buku-buku matematika lainnya yang relevan dengan materi yang akan diteliti.
6.2.1 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yaitu hasil observasi terhadap interaksi belajar siswa. Sedangkan untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar, mengacu pada lembar penilaian guru.
6.2.1 Jenis Data
a. Data mengenai aktivitas siswa. Merupakan data kualitatif.
b. Data mengenai hasil belajar. Merupakan data kuantitatif.
6.2.2 Teknik Analisis Data
Menurut Usman dan Setiawati (2001), penilaian hasil belajar siswa secara individu ditentukan dengan menggunakan rumus berikut :
Nilai akhir yang diperoleh siswa kemudian diinterpretasikan menggunakan kriteria pada tabel berikut :
Tabel 2 Interpretasi predikat hasil belajar siswa
| No. | Nilai | Keterangan |
| 1. | | Istimewa |
| 2. | 80,0 – 94,9 | Amat baik |
| 3. | 65,0 – 79,9 | Baik |
| 4. | 55,0 – 64,9 | Cukup |
| 5. | 40,1 – 54,9 | Kurang |
| 6. | | Amat kurang |
(Adaptasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan, 2004)
Persentase data hasil belajar dan aktivitas dihitung dengan menggunakan rumus dari (Sudijono, 2005) adalah sebagai berikut :
Keterangan:
P = angka persentase
f = frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N = jumlah frekuensi/banyaknya individu
Hasil belajar siswa setiap akhir siklus yang dinyatakan dalam bentuk persentase menyatakan ketuntasan belajar secara klasikal.
6.3 Indikator Keberhasilan
Menurut Djamarah dan Zain (2006), yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok. Penilaian hasil observasi interaksi belajar siswa dilakukan dengan melihat persentase siswa yang aktif dan yang tidak aktif selama proses pembelajaran matematika berlangsung.
Menurut Kunandar (2010), meningkatnya interaksi belajar siswa jika terjadi peningkatan jumlah siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran matematika. Aktivitas belajar siswa yang akan diamati meliputi keaktifan dalam mengerjakan soal ke depan kelas atau memasangkan kartu soal dan kartu jawab, memberikan tanggapan atau jawaban, membuat kesimpulan, dan mengajukan pertanyaan.
Tingkat keberhasilan belajar siswa yang ditetapkan oleh pihak sekolah adalah jika siswa secara individu memperoleh nilai minimal 55. Untuk mengetahui peningkatan keberhasilan belajar siswa, maka indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini adalah secara individu siswa dikatakan berhasil jika memperoleh nilai minimal 55 dan secara klasikal dikatakan berhasil jika 75 % dari jumlah keseluruhan siswa di kelas memperoleh nilai minimal 55.
VII. Rencana Penelitian
Penelitian direncanakan selama 6 bulan seperti pada tabel 4 berikut :
Tabel 4. Jadwal penelitian
| No | Kegiatan | Bulan | |||
| 1 | Persiapan | Maret | April | Mei | Juni |
| | a. Perizinan | x | | | |
| | b. Pembuatan Instrumen | x | | | |
| 2 | Pelaksanaan penelitian | | X | X | |
| 3 | PengolahanData | | | X | |
| 4 | Penyusunan Skripsi | | | | X |
| | Seminar Hasil | | | | |
| | Ujian Skripsi | | | | |
VIII. Daftar Pustaka
Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, Suhardjono & Supardi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Dimyati & Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Djamarah,S.B. (1997). Guru dan Anak didik dalam interaksi edukatif . Jakarta : Rineka Cipta.
Djamarah,S.B & Zain, A. 2006. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Depdiknas 2010. Diakses tanggal 13 Maret 2011. Sistem Pendidikan Nasional. http://www.depdiknas.go.id/content.php?content=file_sispen.
Dwi. 2009. Interaksi Belajar Mengajar.
Diakses tanggal 13 Maret 2010
Herdian. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT.
Diakses tanggal 13 Maret 2011
Ibrahim, M., F. Rachmadiarti, M. Nur & Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. University Press, Surabaya.
Khatimah, Husnul. 2010. Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas IXD SMP Negeri 17 Banjarmasin Pada Pelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT). Skripsi Sarjana. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.
Kunandar. 2008. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Mulyasa.2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta:Bumi Aksara.
Nisriyana, Ela. 2007. Hubungan Interaksi Sosial dalam Kelompok Sebaya dengan Motivasi Belajar Siswa kelas IX di SMP Negeri I Pegandon Kendal Tahun Pelajaran 2006/ 2007. Skripsi Sarjana. Universitas Negeri Semarang, Semarang. Tidak dipublikasikan.
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta : Kencana, Prenada Media Group.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Slavin, R.E. 2005. Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice. Terjemahan. Bandung : Nurulita. Nusa Media.
Sudijono, A. 2008. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.
Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
