Kepada seseorang yang berada jauh disana. Diantara kerumunan para manusia yang sibuk dengan angka-angka. Kekaburan tentang rupamu yang tiap aku melihat semakin tidak jelas berupa apa. Semakin berjalannya waktu, semakin kesini, aku semakin tidak mengenalmu. Apa yang aku harapkan sebagai itu kamu yang sesungguhnya manusia menurutku ternyata lain. Manusia yang merdeka, yang bisa menjadi teman untuk bertukar cerita. Atau untuk saling menguatkan pada prinsip tentang waktu-waktu yang memaksa untuk berproses didalamnya. Waktu yang menjadi batasan pada arena persetubuhan rencana-rencana dengan tindakan-tindakan. Dan ini semua adalah tentang ketegasan untuk memilih. Aku tak tahu bagaimana ini harus ku jelaskan. Agar kemengertian dalam persepsiku ini bisa aku bagi. Dan komunikasi ini menjadi terbuka lebar pada ketegangan, kesedihan, ketakmengertian perasaan, atau kepada ego yang meledak-ledak. Akankah keraguan ini harus kujelaskan padamu terang-terangan? Bukannya apa, ini semua kurasa adalah karena bualan-bualan yang memaksaku untuk diam. Untuk mencoba mengerti dan merasionalisasikan masalah ini menurut kamu, menurut apa yang menjadi nyaman untuk kamu,tanpa harus perduli dengan apa yang menjadi tanggung jawab kita pada orang lain. Atas nama moralitas dan harga diri, kita semakin tidak karuan pada diri kita sebenarnya. Tapi ini juga adalah menurut persepsi ku. Tapi kurasa kamu bisa menerima bualanku ini sebagai sebuah kejujuran. Sebagai luapan perasaan yang sudah basi terpendam dan menunggu-nunggu untuk diledakkan. Tidak ada kata motivasi yang sangat aku benci itu. Motivasi yang membuat seakan-akan manusia hanya punya satu keberhasilan mutlak. Yang membuat manusia lain menjadi terlihat kuat dan benar-benar manusia yang berada diatas, serta manusia yang lain seakan adalah manusia lemah yang hanya pantas untuk mati dalam diam. Aku percaya bahwa kita semua punya kekuatan dan pendirian. Aku lebih menghargai manusia sebagai sosok yang bisa bebas memilih, punya ketegasan pada keyakinan, dan kejujuran pada ruh-ruh yang mencoba membuat cerita ini menjadi kacau dengan tawaran-tawaran tentang kenyamanan. Kita perlui berdamai pada hantu-hantu yang dari kemarin, yang dimulai saat kita punya rasa, punya rasio untuk memikirkan mengapa ini akan terus berjalan dan kenapa kita mesti menjalani ini semua. Dan bagaimana kita mendamaikan ini semua aku kira adalah bentuk daripada kesadaran kita tentang kedirian yang dari dulu memang terus seperti ini. Hantu-hantu yang berada pada batas antara nyata dan tidak nyata, antara real dan tidak real. Hantu yang hanya bisa kita rasakan tanpa harus melihatnya. Hantu yang akan terus ada sampai kita menemukannya dalam kegelapan, karena ku juga belum tau itu tempat seperti apa.
Kembali kepada kamu? Bagaimana dengan kamu? Dan apakah kaum termasuk pada barisan manusia yang menjadi buas karena sistem yang memaklumi liarnya hukum alam? Tentu tidak adil mendakwa kamu akan menjadi seperti itu. Seperti sosok penindas yang selalu tertawa lebar diantara mayat-mayat bergelimpangan darah, di tengah tepukan tangan para penjilat yang selalu memasang muka manis. Atau ketakutan pada kelupaan yang datang diantara ide-ide ini, ide yang berbaju kemanusiaan yang diam-diam juga ternyata meminta kehormatan. Atau pada kata-kata manja yang mencoba membius aku dengan kebisuan diantara angin sore serta kilatan jingga matahari senja kala itu. Kamu sangat bisa membuat semua ini menjadi kenangan pada latar yang menarik. Tapi maaf dengan semua laku yang aku kira bisa dikatakan sebagai sebuah jebakan. Jebakan pada kemantapan hati aku pada kesepahaman saat kita berbincang berkali-kali saat itu. Aku hanya bermaksud untuk mengulur tangan pada seorang sahabat yang menjadi kawan diantara deretan kekesalan pada keseharian yang menyebalkan, pada lelaki yang selalu memasang muka masam tiap kali aku berlalu tanpa sepeser uang kepada mereka. Dan kamu menyambut itu semua dengan tertawaan yang lebih berbau ledekan. Andaikan kamu paham bahwa itu adalah saat dimana kepercayaan itu tumbuh sebagai kelanjutannya dikemudian hari. Aku sudah pasrah pada ketakutan tentang keseharian yang selalu dihiasi dengan dusta pada diri sendiri, tentang kemenjadian diri pada sesuatu yang bernilai. Ya, nilai-nilai ini memang tak seberapa. Tak seberapa besar dibandigkan dengan deretan gelar dan pengakuan dari manusia lain, tidak seberapa dibandingkan dengan pundi uang yang bisa kamu dapatkan dari nilai-nilai yang lain.
Lalu dimana aku harus menemukan kamu? Kamu berbeda dengan aku. Dan aku sudah terlalu banyak membual dengan kata-kata yang pedas di telinga. Karena itu, aku ingin meminta maaf pada sebuah ketegangan pada perasaan-perasaan ini. Aku coba jalan lain, agar aku bisa mendamaikan kekecewaan ini pada keterpurukan yang lebih bernilai. Ya, keterpurukan yang menjadikan aku lebih bisa menerima kenyataan ini sebagai kegagalan aku dalam menjalaninya. Aku mengakui itu semua.
Kepada kamu yang selalu saja datang disaat keraguan pada keteguhan hati, dan keraguan pada semuanya. Selesai ini adalah pertanda aku menjadi kamu, tanpa harus menjadi sama dan tanpa harus menjadikan kamu itu tidak nyata.

0 komentar:
Posting Komentar