Tiba-tiba dani kehilangan hape. “Bungul,” ujar dani ketika melihat hapenya ternyata di bawah kasur. Iya kembali ke tengah ruangan. Ditemani alunan musik, iya menerabas malam. Melawan waktu, menyelesaikan deadline. Skripsi. Target lulus semester ini. malam ini aku cukup. Pikiran sudah bosan. “Saatnya menulis yang bebas,” pikirku dalam hati.
Skripsi. Karya penuh manipulasi. Sarat oleh obsesi, kelulusan. Bisa jua berarti skripsi menjadi tak jujur. Bungkusnya boleh saja oke. Kata disana disiplin ujarnya. Kutipan dipertanggungjawabkan. Ejaannya pun baku, sesuai dengan tata cara penulisan yang baik dan benar. Skripsi boleh jadi membentuk alur pikir seseorang. mungkin saja benar, mungkin pula itu sebenarnya tahap menanamkan pola pikir dosen pembimbing ke mahasiswa. Akhirnya konsultasi, prosesi penyaluran pola pikir itu menjadi niscaya.
Kalau jadinya kuliah untuk ini, sepertinya mahasiswa rugi. Apa yang bisa dibanggakan ketika kita membebek pada pemikiran orang lain. tak bebas.
Padahal, menulis itu adalah cara menyalurkan isi pikiran. Menulis itu hakikatnya sama dengan bicara. Bicara perlu pemikiran, nulis perlu pemikiran. Letak bedanya ada di pertangung jawaban. Menulis meninggalkan jejak. Bicara tidak. Menulis mediumnya jelas. Terlihat oleh mata. bicara mediumnya udara. Ruang hampa. Kecuali ditangkap oleh gelombang bunyi, suara. Pada akhirnya menulis menjadikan kita berhati-hati.
Hati-hati bukan berarti kita selalu takut salah. Hati-hati itu mengingat diri. Dengan ingat diri kita bisa menjadi percaya diri, sabar , tahu batas. Mati adalah tidak menjadi aku. Pikiran mati itu tidak menyadari potensi pikiran sendiri. jadi menulis menghindari mati. Mati dalam artian harfiah pun ditabraknya. Karena menulis membuat abadi. tulisan satu alinea ini dikhususkan untuk pecinta mario teguh yang dirahmati oleh sekalian alam.
Menulis dan skripsi. Coba aku temukan pada satu arena. Pada satu waktu dan ruang, keduanya berkawan. Di lain kesempatan, ia berada pada garis yang bersilangan. Mengapa?
Skripsi itu menulis dan menghitung. Banyak narasi yang ada disana, narasi yang kaku. Jauh dari realitas. Menuntut suatu bentuk ideal dalam persepsi kalangan positivisme. Didukung oleh grafik dan statistik. Sampai disini, seakan skripsi itu lebih dari menulis.
Aku coba menarik keluar kata menulis diatas dari skripsi. Kubiarkan ia telanjang sendiri. kutarik pada sorot lampu yang baru. Walau Cuma lampu petromak. Mudah-mudahan tak apa.
Menulis itu membuat ingat diri ya tadi? Artinya menulis membuat si penulis berdiri sendiri, bebas dalam perspektif menulis sebagai cara. Namun, jika menulis diperkembangkan dalam pengertian sebagai pengwujudan aktivitas berpikir. Aku kawatir menulis jadi elitis karena ini. semakin dijauhi, terasing.
Jika menulis ditandai sebagai bagian dari cara. Jadinya, menulis menerabas batas skripsi. Satu loncatan besar ketika menulis dalam pengertian ini dapat menyebar di institusi formal, masuk dalam sistem pendidikan. Semoga.

0 komentar:
Posting Komentar