Pages

Jumat, 10 Juni 2011

Bukit Ilalang dan Senja


Saat senja menjelang magrib, udin yang tua menyendiri menghadap kebun sawit. Rumahnya terasing di tengah kebun yang sunyi, di pinggir jalan berbatu. Seratus meter lagi perkampungan. Semburat kuning cahaya sore menyerong di sebelah kanan pelataran rumah. Menyelinap dibalik dedaunan sawit yang rimbun.
Matanya menggambarkan kerinduan pada seseorang. Ia merenung di sisa usianya, di badan yang mulai renta. Menjelang magrib, ia baru saja mandi. Badannya bersih, segar, pikirannya menerawang pada suatu waktu yang telah lewat.
Ia menatap asap dari timbunan dedaunan dan sampah. Hampir padam. Hendak ia mengadu pada seseorang, mengenai waktu yang meninggalkan kisah di sepanjang hari tuanya. Ia merasa, aduan hanya untuk orang yang tak mau menerima kenyataan sebagai takdir. Sesal, baginya adalah tanda bagi orang yang tak merasakan berjalannya waktu.
Di hari tua, ia menikmati kesunyian. Seakan lantang menantang maut, yang akan mengakhiri perjalanannya. Pada siapa kisah ini akan ia titipkan? Ia punya anak, dari istri yang telah lebih dulu meninggal. Muhammad namanya, seorang remaja. Kulitnya hitam mengkilat, sisiran rambutnya tepat belah di tengah. Persis ia seperti bapaknya, selagi muda.
Tak berapa lama senja itu, Muhammad datang dari main bola. Ia terengah.
“ahhh,, ayah, aku pulang”, ujarnya menyapa.
Berlalu begitu saja, langsung menuju dapur, minum dari keran sumur. Duduk menyandar pada dinding kayu, merentangkan kaki. Istirahat.
Sementara ia masih di pelataran. Membiarkan anaknya yang kelelahan. Padahal ia ingin bercerita mengenai senja hari disini saat dulu, saat masih belum ada kebun sawit disini. Dan itu menjadi kisah mengapa ia dan istrinya memilih rumah disini, terasing dari perkampungan.
Dulu, disini adalah bukit ilalang. Luas terhampar di sepanjang pandang mata. Saat senja seperti ini adalah saat dimana ia dan istrinya menikmati hidup. Dari angin yang menghembus, dingin, mengaduk bersama panas matahari sore. Bentangan kuning ilalang, memantul cahaya matahari, bergerak kesana kemari mengikuti arah angin. Rasanya sulit untuk melepas momen ini. saat dimana sesi waktu paling mudah diingat dari sekian waktu yang terjalani olehnya.
Berdua mereka menatap kesunyian. Sambil menjumput dedaunan di pekarangan, mengumpulkannya dalam gundukan. Membakar, dan menikmati asap yang terbang perlahan. Mereka seakan tak ingin membagi pemandangan ini pada orang lain. Di setiap senja yang panas, ia selalu menyempatkan untuk pulang kerumah lebih dulu. Istrinya menyiapkan handuk dan gayung. Mandi.
Begitulah, hari-hari mereka bersama dihipnotis oleh senja. Senja yang tiap harinya akan membentuk sketsa yang berbeda ketika memantul diatas ilalang. Mereka selalu menebak-nebak bagaimana senja hari ini.
Ketika hujan, mereka meneduh dalam rumah, menengadah dari balik kaca. Atau menikmati segelas teh hangat dengan singkong bakar. Begitulah cara mereka menikmati bukit ilalang. Sesederhana pun itu, sangat berarti bagi mereka berdua.
Kisah ini membekas sampai ia tua. memberi arti dari setiap perjalanan hidupnya. Ia yang dulunya prajurit, yang sering main dor-doran. Ia yang mahir menggunakan laras panjang, menembaki siapapun yang diinstruksikan komandannya. Ia yang berani menantang sekawanan yang dinilai pemberontak oleh negara, hanya karena bersuara, menyindir presidennya.
Hingga istrinya-yang saat itu masih calon istri- menawarkan jalan hidup lain, di bukit ilalang sini. Selepas nikahan, mereka mengasingkan diri dari aktivitas ia sehari-hari. Istrinya tak mau ia mati sia-sia. Mereka ingin menikmati banyak waktu, itu saja. Ia pun lari dari kamp. Beridentitas ganda. Dari sana, ia menikung jalan hidup. Berubah total. Merupa dalam pelajaran yang tersimpan di ingatan.
Begitu pun, mereka kecewa saat bukit ilalang itu digarap oleh perusahaan luar negeri, ditanam sawit. Dan kebisingan mulai menjangkit disana. Tak lagi sesenyap dulu. Mereka tak bisa berbuat apa. Pemerintah sudah tanda tangan izin dengan perusahaan. Diam, adalah pilihan mereka, karena identitasnya membatasi geraknya berurusan dengan birokrasi pemerintah.
Ingatan ini yang masih tersimpan rapat. Hanya ia dan istrinya yang tahu, selain bukit ilalang yang selalu diam yang saat ini sudah tak ada di depan rumahnya. Begitu pun dengan rahasia identitasnya.
Bagaimana dengan Muhammad, yang beranjak dewasa. Yang semestinya ia mengetahui akan cerita ini. tak sempat ia bercerita, ternyata ia belum siap untuk segala sikap dari anaknya.
Tersadar ia dari lamunan.
Muhammad datang dan memeluk ayahnya. Ternyata ia meneteskan air mata. Ia rindu istrinya dan bukit ilalang disini.

0 komentar:

Posting Komentar