Dini hari ini aku masih terjaga, begitu pula temanku disamping, zulfikar. Biasa, kami tidur di sekretariat LPM. Baru saja, kami dari warung. Makan mie instan dan segelas es teh. Berdua, kami mencoba menghubungkan omongan kami dalam satu topik, berganti-ganti.
Kami sama-sama dibesarkan di LPM. Saya tertarik menulis karena LPM dan mengenal orang-orang yang ada disini. kali ini, kami sudah tak lagi menjadi pengurus. Hampir sudah setahun kepengurusan berganti. Regenerasi memang harus berjalan. Romantika memang menyedihkan. Seketika berupa bangkai, lain waktu ia mewangi dalam ingatan.
Tapi, kami belum lagi usai. LPM mandeg cetak, minim dana dan kader. Cekak. Pengurusnya masih ada. Tapi program kami tak lagi mengikuti. Sepertinya juga mandeg. Ada apa?
Sementara, aku teringat. Aku juga punya tanggung jawab. Sekarang sekjen. Aku risih dalam diam. Apa yang aku lakukan. Aku merasa sendiri, terasing. Aku takut mereka bubar. Dimana-mana penuh ketakutan. Sejenak pikiran itu menghantuiku.
Banyak yang ingin kubagi. Tapi aku juga tak yakin dengan bahan-bahan ini. mungkin kita punya pilihan dan pandangan masing-masing. Baiklah, aku persilakan untuk bebas, terbuka, tapi tidak diam.
Diluar, pikiran meraung-raung. Menunggu selalu untuk ditenangkan oleh laku. Laku tak jua berakhir. Satu laku tuntas, laku lain menunggu. Begitulah, kita selalu dikejar oleh ketaksampaian. Obsesi. Keinginan. Target. Pencapaian.
Mesti kita apa kan ia? Kita paketkan dalam kardus, lakban, kemudian kirim melalui lintasan lurus menuju bongkahan kesombongan-kesombongan. Hingga aku merindu pada satu tawa. Bersama menghitung sisa duit untuk makan malam. Tapi kita tak jua makan, malah berbagi rokok dan minum bersama. Tetap menertawakan langit yang tetap gelap walau bertabur oleh kerlip bintang. Ini bukan dongeng, tolong.
Mungkin tuhan bisa melihat kita dari lubang sana. Dari lubang kecil parit yang becek di tengah pasar. Bersama desah nafas kakek tua yang tergopoh mengangkat air bersih dari PDAM ke rumah-rumah. Aku yakin, tuhan masih bersama mereka. Aku bisa meyakini itu, meski ku tau tuhan tak bersamaku sekarang. Karena tuhan tak mau dengan manusia yang banyak mikir dan rencana. Tuhan apa adanya dengan lugas dan perasaan yang kosong oleh bapak yang namanya keinginan buta.
Dari apatisme manusia sekarang, kulihat celah bagi sebuah jalan. Jalan dari gerakan manusia untuk menantang keadaan yang mencipta, menjebak dalam sistem, kapitalisme. Keserakahan yang berbungkus dengan apa saja. Kesombongan, wibawa, martabat, dan tata laku moral rontok beriringan menuju satu penghancuran struktural, menyeluruh. Mungkin bukan untuk perbaikan, mungkin ini pembalasan. Tapi mungkin pula, ini hanya perlawanan.
Sulit memang menghubungkan tuhan dan indonesia. Kita tak akan pernah menemukan satu titik dimana mereka akan bertemu. Sulit mencari akar indonesia ada pada titik mana, dan merupa pada apa saja. Mungkin pada riuh sungai yang deras di pegunungan, tapi ia terbungkus oleh plastik dalam kemasan air putih berharga. Mungkin lain itu. bisa jadi ia merupa pada tanah hitam yang memiliki aroma khas bila dicium. Meski ia sekarang, rapat tertutup oleh dedaunan sawit yang bercerucuk, berbaris menunggu truk pengangkut. Paling tidak, aku bisa berharap pada gulungan ombak yang ganas, mungkin tak ada tangan yang sampai menuju sana. Ternyata aku tak selalu tepat. Disana, aku masih bisa melihat genangan air limbah bercampur minyak. Membaui. Busuk. Mungkin saja indonesia ada, tapi bukan pada titik waktu ini. titik waktu indonesia yaitu saat kesemua hal besar lebur bersama bumi nusantara, manusia, peradaban, mahluk, dan sesuatu yang lain di alam yang berbeda. Berkumpul, bukan dalam satu kesepakatan formal. Bukan dalam perbincangan setuju atau tidak. Tapi lebih dari sebagai proses pencarian dari jati diri, melalui fragmen-fragmen yang hampir retak di ujung cerita. Ia memancar, mewarnai luka lama akibat kecelakaan sejarah yang menabrak waktu, terlalu cepat. Mungkin aku bisa meragukan indonesia, tapi aku tak bisa meragukan tuhan.

0 komentar:
Posting Komentar