Tinggi menjulang, seakan berani menantang langit
Congkak, dengan perhatian sekitar-sekitar
Menyemut dalam pandangan
Ada tanda kehidupan dari peradaban busuk
Yang dipenuhi oleh kompromi-kompromi
Siapa sangka, berlapis emas?
Awas tipuan, adalah jebakan
Jika diam adalah tanda perlawanan
Sayang itu tidak banyak, dan terkadang memang perlu meradang
Tapi masihkah pantas untuk bertanya
Tentang semuanya dengan dia
Kala mereka telah begitu kuat
Dan akhirnya terasing dalam siang yang terik dan hujan yang bergilir, datang bergantian
Lapuk oleh usia
Warisan orang tua yang membusuk karena lupa
Wajah-wajah yang saling tuding, prasangka
Sudahlah, mari tertawa bersama tuhan
Dan keheningan, malam ini. Dingin
***
Tergambar berupa kartun
Hitam putih, kebersamaan
Menjingga bersama waktu yang membatasi kesenangan
Lagi-lagi tentang kenangan
Rangkulan ini adalah tanda cinta
Tak mau lepas hanya oleh ironi dunia
Mari lepas,.bebas
Kita belajar mengenai rindu yang tertahan
Oleh jarak, dan kita hanyalah luka
Seperti bilah bambu di tengah hutan,
Merentang tak keruan
Menyatu dalam pandangan
Habis menjadi bilah-bilah
Mengalir bersama arus air
Mengumpul di lautan
Membusuk tak apa
Bukankah bersama lebih utama?

0 komentar:
Posting Komentar