Ada rawa disana, yang dibelah oleh jalanan aspal hitam. Agak rusak. Udara malam itu terasa menghembus dalam tiap satu tarikan napas. Sementara pandangan tak terhenti hanya pada pohon, atau dinding tebing. Justru ada lautan air, hitam, dengan eceng gondok yang tumbuh subur diatasnya. Ada apa di tengah sana? Di dalam pekuburan orang-orang tua yang terperangkap oleh air bah. Yang dipayungi oleh pohon besar, sisa keperkasaan alam, dalam waktu sebelumnya.
Air bacaan, asap bakaran dari dupa, malam jumat, dan aroma melati dari pinggir makam. Siapa yang hendak dibebaskan malam ini? Dari belenggu tabu. Dari mistisme yang kita tak tau ia berasal dari mana. Bisakah tuhan berwujud dalam keperkasaan dunia seperti ini, bukan melalui sesajian yang sebenarnya merepotkan?
Dalam perbincangan mengenai waktu terselip ingatan-ingatan. Mungkin akan bertahan melebihi jasad yang nanti juga membusuk. Bersama belatung dan tanah hitam. Dalam kegelapan, siapa yang perduli tentang derita disana.
Kepada malam ini yang senantiasa dingin. Bisakah engkau lihat mereka yang hampir mati di gorong-gorong sana. Mereka yang sedang bernegosiasi dengan ajal. Bisakah malam pekan ini saja engkau berhenti berupa penghambaan? Melainkan dalam tiap jengkal proses kemerdekaan, dari penindasan dan keterpaksaan karena penghisapan.
Mungkin saja mistisme dipermainkan bukan? Oleh kesempatan yang menjadi cair, melebur dalam pengkultusan terhadap benda, manusia. Pada panggung-panggung janji, karnaval kekuasaan yang berjalan, yang menarik simpati di tengah himpitan makan.
Namun, kita patut bersyukur pada kematian. Dari rintihan tangis di tengah sunyi, dari sederet kenangan yang pupus membenda dalam nyata. Ada celah bagi setitik peluh. Untuk nyawa lainnya. Ya, berbagi nyawa. Berbagi nafas dalam kesederhanaan, tak terasakan.
Adilkah upacara ini berjalan terus? Dengan ketaksadaran dalam negasi dan afirmasinya kemudian. Seperti misteri, ia pun terjalani dalam suasana yakin, kepercayaan namun tetap tak terjawab. Toh, senyum tetap terpancar diantara konflik dan perseteruan. Palsu.

0 komentar:
Posting Komentar