Ada begitu banyak tanda yang tak sempat saya tangkap malam ini. hari-hari dimana saya terlalu banyak disibukkan dengan perkara memenuhi kesenangan diri lewat permainan dan birokrasi yang melilit. Walau terkadang, beberapa kali kekecewaan yang saya dapatkan menjadikan saya lebih peka dalam menilai-juga dalam pandangan yang negatif. Jika makna dibalik sesuatu ini dicari melalui perenungan-perenungan tentang pengalaman yang telah lewat, setelah itu ada berbagai macam gambaran yang kita dapat. Kita mendapat masalah baru, yaitu merangkai makna tersebut dalam dunia baru, dunia tulisan. Bagaimana sebuah tulisan bisa hidup melalui diksi yang tercipta saya kira adalah anugerah yang dimiliki penyair. Proses tersebut dicapai tentu dalam rentang perjalanan yang tak gampang. Terkadang kita perlu rehat, terkadang hanyut, dan seringkali tak puas dengan penemuan yang terbatas, parsial. Dibalik suatu fenomena saya kira menyimpan sesuatunya, sesuatu keindahan dalam penuturannya. Kisah, yang sederhana seringkali juga memantik tanya pada diri, kemudian takjub. Adakah kepuasan ini bisa menggila dalam romantisme waktu. Mediumnya bermacam-macam. film, artikel, cerpen, dan puisi misal yang kita kerucutkan nanti pada tulisan dan gambar. Menyiratkan pesan yang terkadang membius pemikiran kita. Sadarkah kita kan hal ini? permainan tanda ini adalah perkara mengenai persaingan memperebutkan perhatian kita. Persaingan dimana kita dibujuk untuk memperhatikan mereka, seperti deretan perangkat pemuas diri yang terpampang di etalase toko, mencerminkan ketidakpuasan kita pada sesuatu yang sifatnya materi. Akhirnya kita tercebur pada pilihan-pilihan yang membuat kita merdeka, berdasarkan alasan yang paling logis menurut kita sendiri. dengan begitu, bisakah kita katakan bahwa kita hidup dalam dua dunia. Dunia materi dan dunia persepsi. Kemudian, bagaimana keduanya bisa terhubung satu sama lain? mediumnya tadi adalah tulisan dan gambar, ia ada dunia nyata. Sementara di dunia persepsi kita berdiri sendiri sebagai sebuah diri yang merdeka. Penghubung antar individu memang bisa dilsayakan melalui diskusi, tapi siapa yang bisa memberi garansi pada keyakinan, ketika hari ini intimidasi dan pemaksaan masih tumbuh subur pada yang namanya keyakinan. Dengan kata lain, bisakah kita mengatakan bahwa dunia nyata sebenarnya membatasi dunia persepsi itu sendiri? baiklah, cukup sudah saya membawa kalian berputar-putar pada jalan yang saya pilih. Bukankah dalam sebuah tulisan, penyair bertindak sebagai sopir yang mengarahkan pemikirannya pada sesuatu yang berproses. Pernah saya dengar bahwa, dari tulisan kita bisa melihat kerendah hatian seseorang. Mendengar kata itu, saya jadi berpikir, apa yang telah saya lsayakan dengan tulisan saya? Berdosakah saya dengan semua pemikiran saya yang membuat orang berpikir ulang mengenai sesuatu yag saya tulis? Bahkan, bisakah saya tidak menjadi diktator dalam hal ini, dalam perkara tulis menulis dan persepsi saya yang terlalu membaur disana. Belum tuntas dalam pertanyaan seperti ini, saya pun mengambil jalan singkat, dengan memberikan tempat bagi mereka yang ingin berontak. Lagi, kegelisahan saya adalah tentang bagaimana jadinya bila pemikiran saya dalam medium tulisan akhirnya menjadi busuk karena terlalu mengambang pada sesuatu yang tak tentu, atau karena terlalu banyak mengajak orang-orang berkhayal pada sesuatu yang jauh dari realitas. Sedari tadi, saya sadar bahwa saya terlalu percaya diri untuk mengatakan bahwa tulisan saya akan dibaca orang. Saya menyadari bahwa konsekuensi paling ringan ketika kita mulai menulis adalah kesediaan kita untuk membuka jalan pemikiran kita pada orang lain. itu sudah termaktub dalam perjanjian kasat mata dalam diri. Demikian yang saya haturkan. Maaf bila menyinggung perasaan, maaf bila menabrak persepsi kalian. Kita hidup dalam satu keserasian yang unik. Karena kita dilahirkan secara merdeka, dan juga dijerat dalam keterbatasan pandang, dan celakanya kita mesti membaur.

0 komentar:
Posting Komentar