Pages

Senin, 09 Mei 2011

haru biru rasa yang berujung di pena


Percaya atau tidak, langit Banjarmasin dua hari belakangan selalu dirundung muram. Sepeninggal kawan dari Makassar yang berangkat minggu malam kemarin, hujan dan rintik tak henti membasahi tanah hitam, dan rawa-rawa ini. Ada apa dengan alam ini? Kemana panas terik yang biasanya hadir disela siang? Mungkinkah ia tahu, memaklumi apa yang terjadi dari setitik manusia yang ada didalamnya. Atau ini hanya perasaanku saja, untuk sekedar mengaitkan ini biar lebih dramatis. Kawan dari Makassar kemarin adalah rombongan terakhir yang meninggalkan kami lengkap dengan cerita-cerita. Sehabis itu, hanya ada tempat yang sepi, yang belum sempat untuk dirapikan.
Saya baru pertama kali berada di sekawanan acara PPMI, dan langsung menjadi tuan rumah. Kata Andi Mahifal, sekjen kita yang ganteng abis itu, Dies Natalis kali ini adalah Dies paling melankolis. Benarkah itu? Atau hanya perasaannya saja, perasaanku saja, perasaan kalian saja. Bisakah ini menjadi perasaan kita semua? Walau dengan kadar yang berbeda, saya kira, sedikit banyak dengan berbagai settingan dan cerita haru berbekas di ingatan kita. Kenangan mungkin adalah perkara yang tak mudah. Kita bisa saja larut di dalamnya, tergelincir, kemudian tak sadar akan realitas. Ya, realitasnya adalah jarak. Kalian memang mesti kembali balik. Dan kami yang tertinggal disini, biarkan merangkai cerita itu, lantas menyimpannya rapat sebagai bahan disaat menghabiskan malam di warung kopi banjarbaru, sayang saya belum sempat mengajak kalian mampir disana. Permasalahannya adalah bahwa kami berperan sebagai orang yang ditinggal. Tempat-tempat itu tidaklah asing bagi kami hari-hari ini. Tempat itu ikut pula merekam jejak kenangan yang samar. Sialan, sindrom melankolik juga menjangkiti saya, setelah dua orang bernama Andi Mahifal dan Citra Dara Vresti yang terlebih dulu datang kesini Bulan Nopember kemarin. Tiba-tiba perasaan saya menjadi hambar akan banyak hal.
Dan ternyata dari sini pula saya memahami sedikit demi sedikit tentang PPMI itu apa. Lagi-lagi buat Andi Mahifal, terima kasih karena telah menguatkan kami dalam proses yang berat di awal namun indah dalam perjalanannya kemudian. Baru tadi malam, kami mengadakan syukuran atas terselenggaranya Dies Natalis. Senang rasanya melihat tekad kawan-kawan seperjuangan yang rela capek untuk semuanya. Senang rasanya melihat canda yang tak jauh berbeda dari biasanya.  Canda yang sekilas sepele, namun mampu menguatkan kami hingga hari ini. Tak lupa, deretan rencana kemudian menyusul untuk dijalani. Tuhan, inikah keindahan hidup itu? Menjalani berbagai perubahan rasa yang selalu fluktuatif, kadang memuncak senang, terpuruk, perlahan berdiri, tercerai berai. Dan kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya bersatu ketika kita belum pernah bercerai.
Aku ini PPMI, kamu juga, dan di tiap kota PPMI ada berdasar pada karakter, iklim yang ada di kota tersebut. Bagi kami, PPMI Banjarmasin yang notabene baru, apalagi menyendiri di pulau kalimantan ini, pencarian jati diri mutlak dilakukan. Dan sekarang, kami tersadar bahwa memang PPMI lahir dari kultur. Dan proses pengkaderan terlahir atas dasar hubungan personal dan kesadaran, tidak ada doktrin akan satu golongan tertentu. Sederhana.
Kepada kawan sekjen kota yang lain, secara tidak langsung saya banyak belajar dari kalian, terima kasih karena telah mengajarkan kepada saya arti ketulusan dan saling membantu satu sama lain. Kepada kawan Bram, terima kasih atas sesi curhatnya yang sangat menarik sebagai sesama sekjen. Kepada alam borneo yang menyediakan kesempatan bagi kami untuk bercengkerama di dalamnya, tanjakan, tebing, yang kiranya jauh untuk dicapai itu, menyiratkan bahwa kami hanyalah sekumpulan anak muda yang berusaha mencari sesuatu yang maha besar dan tak tergapai, dan kami menikmati proses itu kemudian melalui keresahan-keresahan dan perayaan kesadaran kolektif.
Banjarmasin, 2 Mei 2011



0 komentar:

Posting Komentar